🔥 TERKINI
Home » Nasional » Kota-Kota Besar di Jawa Alami Penurunan Tanah Lebih dari 5 CM Per Tahun

Kota-Kota Besar di Jawa Alami Penurunan Tanah Lebih dari 5 CM Per Tahun

BAGIKAN:
ADVERTISEMENT
Ilustrasi. (Foto/Doc)

BANDUNG, RMNEWS.ID- Badan Geologi mengeluarkan peringatan serius terkait fenomena penurunan muka tanah (land subsidence) yang melanda sejumlah kota besar di Pulau Jawa.

Data terbaru menunjukkan bahwa laju penurunan tanah di beberapa titik telah melampaui angka lima sentimeter per tahun, mengancam infrastruktur dan keselamatan warga.

Fenomena ini tidak lagi hanya menghantui wilayah pesisir utara, tetapi juga telah merambah ke wilayah dataran tinggi seperti Kota Bandung dan kawasan Bandung Raya.
Bandung Raya: Dampak Endapan Danau Purba dan Industri

ADVERTISEMENT

Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan (PATGTL) Badan Geologi, Agus Cahyono Adi, mengungkapkan bahwa Bandung mengalami penurunan tanah signifikan akibat kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia.

Secara geologis, wilayah Bandung terbentuk dari endapan sedimen muda danau purba yang cenderung labil.

“Wilayah dengan sedimen muda memang lebih rentan mengalami penurunan tanah,” jelas Agus, Minggu (21/12/2025), dilansir dari Kompas.

Kondisi alami ini diperparah oleh eksploitasi air tanah berlebihan oleh sektor industri dan perumahan, urbanisasi yang cepat serta beban bangunan yang masif dan kondisi tanah lunak yang mengalami pemadatan alami.

Selain Bandung, Badan Geologi mencatat beberapa wilayah lain di Pulau Jawa dengan laju penurunan tanah di atas 5 cm per tahun, yaitu:

– Jakarta: Wilayah Jakarta Utara.

– Semarang: Kawasan Genuk, Tanjung Mas, dan Kaligawe.

– Demak: Wilayah Sayung.

– Pekalongan: Pesisir pantai.

– Surabaya: Bagian Timur dan Utara.

Plt. Kepala Badan Geologi, Lana Saria, memperingatkan bahwa penurunan tanah yang berpadu dengan kenaikan muka air laut akibat pemanasan global menciptakan risiko bencana ganda.

Di wilayah pesisir, hal ini memicu banjir rob permanen dan hilangnya daratan.

“Dampaknya bukan hanya lingkungan, tetapi juga ekonomi karena meningkatnya biaya perbaikan bangunan dan hilangnya permukiman serta tambak,” ujar Lana.

Bahkan, laporan World Economic Forum (WEF) pada November 2025 menyebut Jakarta dan Semarang tenggelam lebih cepat dibandingkan kenaikan muka air laut itu sendiri.

Meskipun faktor geologi alami seperti jenis tanah tidak dapat dikendalikan, Badan Geologi menekankan bahwa intervensi manusia masih sangat mungkin dilakukan.

Salah satu langkah paling krusial adalah memperketat izin dan mengurangi penggunaan air tanah secara drastis.

“Faktor alam tidak bisa dikendalikan, tetapi yang bisa kita lakukan adalah membatasi eksploitasi air tanah,” tegas Agus Cahyono Adi.

Penataan ruang yang berkelanjutan kini menjadi harga mati bagi kota-kota besar di Jawa agar terhindar dari ancaman “tenggelam” di masa depan.**

Redaktur: Gusti Rangga
Sumber: Kompas

ADVERTISEMENT
RMNEWS