JAKARTA, RMNEWS.ID-Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto menilai kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berulang setiap tahun berpotensi berdampak menurunkan martabat dan citra Indonesia di mata negara tetangga.
Dikutip dari pemberitaan kompas, jumat (17/10/2026) menyebut, dampak karhutla tidak hanya dirasakan masyarakat di Kalimantan, Sumatera, dan sekitarnya, tetapi juga masyarakat di negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam. “Persoalan berulang itu menjadi persoalan citra bangsa.
Beberapa warga negara Indonesia banyak melaporkan ketika datang ke Singapura, ke Malaysia dan wilayah lainnya, mereka mendapat protes keras atas ketidakmampuan kita di dalam menangani kebakaran hutan ini,” kata Hasto dalam siaran pers, Jumat (16/10/2026).
Menurut dia, kebakaran yang terus berulang menunjukkan lemahnya langkah antisipasi dan mitigasi pemerintah dalam menangani karhutla.
“Ini adalah suatu tamparan terhadap wajah politik kekuasaan kita, terhadap wajah politik pemerintahan kita karena tidak mampu terhadap menyelesaikan persoalan yang datang setiap tahun,” ujar Hasto.
“Politik Merawat Pertiwi itu harus dimulai dengan yang pertama adalah konsepsi tentang tata ruang. Bahwa kita tidak boleh melakukan suatu perubahan tata guna hutan dan harus ada moratorium hutan. Maka politik tata ruang harus kita galakkan kembali, hutan harus ada moratorium, tidak boleh dikonversi,” kata Hasto.
Selain penataan tata ruang dan moratorium hutan, Hasto mendorong gerakan penghijauan melalui penanaman pohon dan reboisasi secara serentak. Menurut dia, upaya tersebut tidak hanya bertujuan memulihkan lingkungan, tetapi juga dapat menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
“Dan kemudian gerakan merawat lingkungan dengan menanam pohon, reboisasi, itu harus dilakukan secara serentak. Dengan cara itu pemerintah juga diuntungkan dengan menciptakan lapangan pekerjaan bagi rakyat melalui penghijauan kembali hutan-hutan kita,” kata Hasto.
Hasto menambahkan, langkah antisipasi, koordinasi, dan mitigasi karhutla saat ini masih sangat kurang. Padahal, para pakar telah mengingatkan potensi El Nino ekstrem yang dapat meningkatkan risiko kebakaran di lahan gambut.
“Banyak pakar yang sudah mengingatkan bahwa Indonesia akan menghadapi El Nino ekstrem yang berimplikasi pada lahan-lahan gambut yang berpotensi untuk menciptakan suatu titik-titik api sebagai penyebab juga kebakaran di beberapa wilayah,” ungkap Hasto.
“Tapi PDI-P melihat langkah-langkah antisipasi, koordinasi, dan mitigasi yang dilakukan itu sangat kurang,” ujar dia.
(rm/net).

