🔥 TERKINI
Home » Peristiwa » Luapan Sungai Bawah Tanah Lumpuhkan Aktivitas Nelayan Pantai Baron, Belasan Kapal Tenggelam

Luapan Sungai Bawah Tanah Lumpuhkan Aktivitas Nelayan Pantai Baron, Belasan Kapal Tenggelam

BAGIKAN:
ADVERTISEMENT
Pantai Baron, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. (Foto/Doc)

GUNUNGKIDUL, RMNEWS.ID- Aktivitas melaut di kawasan Pantai Baron, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta praktis terhenti setelah hujan ekstrem memicu luapan sungai bawah tanah yang bermuara di pantai tersebut, Minggu (11/1/2026).

Dampaknya tidak hanya merusak armada nelayan, tetapi juga memukul perekonomian warga pesisir yang menggantungkan hidup dari laut dan pariwisata.

Arus deras yang keluar dari celah bebatuan karst menghantam kapal-kapal nelayan yang sedang bersandar.

ADVERTISEMENT

Sejumlah perahu mengalami kerusakan berat akibat mesin terendam air, bahkan satu unit dilaporkan terseret jauh ke tengah laut.

Warga setempat menyebut belasan kapal harus dievakuasi dan dikeringkan secara manual untuk mencegah kerusakan lebih parah.

Selain sektor perikanan, luapan air juga menjebol tanggul dan merendam rumah-rumah di sekitar pantai.

Warga bersama petugas penyelamat berjibaku memindahkan peralatan melaut, perabot rumah tangga, serta aset berharga ke lokasi yang lebih aman di tengah hujan yang belum menunjukkan tanda mereda.

Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta menjelaskan kejadian ini berkaitan erat dengan kondisi geologi Gunungkidul yang didominasi kawasan karst.

Kepala Bidang Linmas Satpol PP DIY, Suhardi, mengatakan jaringan sungai bawah tanah di wilayah tersebut dapat meluap secara tiba-tiba saat curah hujan tinggi, terutama di area muara seperti Pantai Baron.

Untuk mencegah risiko lanjutan, pemerintah daerah menutup sementara kawasan wisata Pantai Baron dan menyiagakan personel SAR Satlinmas.

Langkah ini diambil guna mengantisipasi banjir susulan sekaligus melindungi warga dan wisatawan dari potensi bahaya.

Warga berharap adanya solusi jangka panjang, termasuk penguatan tanggul dan sistem peringatan dini, agar fenomena alam khas karst ini tidak terus berulang dan menimbulkan kerugian besar setiap musim hujan.**

Redaktur: Gusti Rangga
Sumber: Liputan6

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
RMNEWS