BATAM, RMNEWS.ID – Menteri Investasi sekaligus Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa Apple berencana untuk membangun pabrik di Batam. Perusahaan teknologi global ini telah menyetujui investasi sebesar 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp15,95 triliun untuk pembangunan pabrik tersebut.
Kesepakatan ini tercapai melalui pertemuan antara perwakilan Apple dan Rosan Roeslani di Jakarta pada Selasa, 7 Januari 2025 lalu, dilnsir dari Batamnews.
Pabrik yang akan didirikan ini diperkirakan akan memproduksi AirTag, perangkat pelacak yang pertama kali diluncurkan pada April 2021. AirTag dirancang untuk membantu penggunanya menemukan barang yang tertinggal, hilang, atau bahkan dicuri.
Perangkat ini terhubung dengan aplikasi “Find My” yang tersedia di perangkat Apple, seperti iPhone, iPad, dan Mac, sehingga memungkinkan pengguna untuk memantau lokasi barang secara real-time. Dengan ukurannya yang kecil, perangkat ini mudah dipasang pada berbagai barang seperti kunci, dompet, tas, hingga hewan peliharaan.
Tak hanya memiliki desain yang praktis, AirTag juga dilengkapi dengan berbagai macam fitur canggih yang memudahkan penggunanya. Jika barang tertinggal di tempat yang dapat dijangkau, fitur suara pada AirTag dapat membantu pengguna untuk menemukan barang tersebut. Pelacakan dilakukan secara anonim dan terenkripsi sehingga privasi tetap terjaga.
Selain itu, tidak perlu khawatir jika AirTag terkena hujan karena perangkat ini sudah disertai perlindungan terhadap cipratan air dan debu dengan sertifikasi IP67. Produk ini pun dijual dengan harga yang cukup terjangkau yaitu mulai dari Rp499.000 per unit. Sehingga dapat menjadi pilihan yang tepat untuk menjaga barang-barang berharga tetap aman dan mudah untuk ditemukan.
Dengan segala keunggulan yang ditawarkan AirTag, pendirian pabrik di Batam ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi dan memenuhi permintaan pasar, termasuk di Indonesia, dan menciptakan banyak lapangan pekerjaan baru.
Rosan Roeslani sendiri menyebutkan bahwa pabrik tersebut bisa mencakup hingga 2.000 tenaga kerja. Selain itu, dengan produksi yang lebih dekat dengan pasar, harga jual AirTag di Indonesia diharapkan untuk lebih kompetitif sehingga konsumen memiliki kesempatan lebih besar untuk ikut menikmati teknologi pelacakan yang praktis dan efisien ini.
Editor : Adhya
Sumber : Batamnews


