BATAM, RMNEWS.ID-Seorang jurnalis atrau wartawan tak mengenal namanya pensiun, meski sudah lansia, tapi masih bisa eksis berkarya.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, Mawardi wartawan senior yang juga mengelola dua media yakni media cetak dan online, membuktikan bahwa usia bukanlah batasan untuk tetap eksis dan berkarya.
Dengan lebih dari 40 tahun pengalaman di dunia jurnalistik, ia menegaskan bahwa seorang jurnalis, selain memiliki kemampuan dasar teknis, wartawan profesional memiliki kesadaran dan ketaatan terhadap Kode Etik Jurnalistik, hukum dan perundang-undangan.
Selain itu keterampilan dan etika agar berita yang disampaikan menjadi kredibel dan bertanggungjawab
“ Menjadi Jurnalis menyampaikan informasi secara umum dengan melakukan pengumpulan data, analisis, penulisan laporan, dan publikasi berita. Hasil publikasi ini dapat dibagikan secara online maupun offline. Tentunya, proses kerja ini juga harus menaati kode etik jurnalistik.” Ujar Mawardi ketika ditemui di salah satu restoran di Batam, Kamis (5/11/2026).
Lebih lanjut Mawardi menjelaskan, bahwa perubahan industri media menuntut wartawan untuk lebih fleksibel. Jika dulu berita hanya tersaji dalam bentuk cetak, kini media digital, video, dan media sosial menjadi elemen utama dalam penyampaian informasi.
“Kalau dulu, saya sebagai wartawan tak ketinggalan buku catatan dan kamera besar. Sekarang, dengan satu ponsel, kita bisa menulis, merekam, dan mengedit berita sekaligus. Jadi kita harus bisa mengikuti perkembangan ini, Kalau tidak kita akan ketinggalan,” katanya.

Kantor Redaksi Koran Rakyat Media di Batam. (Foto/Dokumentasi).
Ia juga mengatakan pentingnya personal branding bagi seorang wartawan. Penampilan dan gaya bicara yang menarik dapat menjadi nilai tambah dalam membangun kredibilitas.
“Sebagai wartawan penampilan itu sangat penting, kalau kita tampil asal-asalan, bagaimana orang mau percaya dengan berita yang kita sampaikan?, Jadi seorang wartawan itu penampilan sangat penting, disamping kepribadian agar mudah dikenali dan dipercaya oleh publik,” ujarnya lagi.
Pria kelahiran Medan (Sumatera Utara), 20 Nopember 1952 ini menjelaskan, ketika ia memulai karier jurnalistiknya pada tahun 1985 bekerja di Surat Kabar Mingguan Taruna Baru, tiga tahun kemudian tepatnya tahun 1988 ia pindah bekerja di perusahaan Harian Medan Pos salah satu Surat Kabar Harian terkemuka di Sumatewra Utara.
“ Kala itu saya harus mengetik berita pakai mesin ketik, dan mengirimnya lewat faksimile, kemudian menunggu berjam-jam untuk naik cetak. Kalau sekarang semua serba cepat. Dalam hitungan menit, berita bisa langsung tayang dan dibaca ribuan orang. Tapi yang tidak boleh berubah adalah integritas dan keakuratan dalam menulis berita,” katanya.
Menurutnya, wartawan harus tetap memegang teguh kode etik jurnalistik dan Undang Undang Pers tahun 1999 meskipun media digital semakin mengutamakan kecepatan.
“Menjadi jurnalis bukan hanya soal menulis, tapi juga tanggung jawab terhadap masyarakat, sebagai wartawan kita wajib mematuhi kode etik jurnalistik. Menjadi yang pertama menyiarkan berita itu bagus. Tapi menjadi yang paling akurat jauh lebih bagus dan bisa menyelamatkan kariier kita di dunia jurnalistik,”ungkapnyta.

Ruangan kerja Pemimpin Redaksi. (Foto/Dokumentasi).
Meski telah berpengalaman puluhan tahun, ia tetap belajar dan terus belajar mengikuti perkembangan. Ia percaya bahwa inovasi adalah kunci agar tetap bertahan di dunia jurnalistik.
“Saya tidak mau kalah dengan anak muda. Media sosial, video berita, dan platform digital lainnya harus kita manfaatkan dan mengikuti perkembangan jaman saat ini,” katanya.
Saat ini, pria yang telah menetap selama 30 tahun di Batam ini bergabung dalam wadah organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Kepri, sementara di bidang kewartawanan ia telah mengantongi Kartu Wartawan Utama dan sertifikat dari Dewan Pers, setelah mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) di Gedung Dewan Pers Jakarta pada tahun 2018 yang di ikuti peserta dari berbagai media baik cetak, televisi dan media online Nasional.
Di akhir perbincangan, ia menekankan bahwa jurnalis tidak hanya menulis berita, tetapi juga menjadi bagian dari perubahan.
“Jurnalisme digital adalah bentuk jurnalisme yang menggunakan platform digital, seperti situs web, media sosial, dan aplikasi seluler, untuk memproduksi, menyebarkan, dan mengonsumsi berita. Berbeda dengan jurnalisme konvensional, yang terbatas pada media cetak atau penyiaran, memanfaatkan teknologi untuk memberikan berita secara real-time dan interaktif.” Kata dia mengakhiri perbincangan dengan media ini.*
Penulis : Fuat Darminto wartawan rmnews.id Batam.


