JAKARTA, RMNEWS.ID – Musim kemarau dan dampak kekeringan makin terasa di sebagian besar wilayah di Pulau Jawa. Bahkan, warga di sejumlah daerah mulai kekurangan air.
Sejumlah kabupaten/kota di Pulau Jawa saat ini menggantungkan pasukan air dari dropping air bersih atau sumber air yang debit airnya makin tiris.
Warga di sedikitnya 14 kabupaten/kota di Jawa Tengah terutama di Grobogan, Cilacap dan Pati sudah menikmati kiriman air bersih sejak Mei 2024, seperti dikutip dari CNN, Rabu (4/9/2024).
Sementara sebagian lain mencari air ke sumber mata air atau waduk yang makin kecil debitnya.
Di Jatim termasuk di Ponorogo, Lamongan, Pacitan, Bojonegoro, Gresik, Magetan, kemarau bukan cuma memaksa warga menunggu giliran dropping air tetapi juga membuat gagal panen (puso). Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim Juni lalu mengumumkan 26 ribu hektar gagal panen akibat kekeringan.
Di Kecamatan Bungkal Ponorogo, warga mengambil air dari satu-satunya sumur di hutan berjarak setengah kilometer dari dusun. Mereka pun harus rela antre untuk bisa mendapatkan air.
Air hanya cukup untuk makan-minum sementara untuk cuci, kakus dan keperluan lain harus dilakukan di sungai yang terletak di desa tetangga.
Sementara di Madiun, pengelola Bendungan Dawuhan mengatakan pasokan air tinggal 30 persen dari kondisi normal. Jika hingga Oktober air tidak bertambah, maka pintu air bendungan akan ditutup untuk menghindari kerusakan bangunan bendungan.
Meski kemarau tahun ini tidak berdampak seburuk tahun lalu, BMKG telah memperingatkan risiko kekeringan yang cukup parah.
Editor: Andika
Sumber: CNN

