🔥 TERKINI
Home » Internasional » Utang Menumpuk, Boeing Bakal PHK 17 Ribu Pekerjanya

Utang Menumpuk, Boeing Bakal PHK 17 Ribu Pekerjanya

BAGIKAN:
ADVERTISEMENT
Utang Menumpuk, Boeing Bakal PHK 17 Ribu Pekerjanya (foto/ist)

JAKARTA, RMNEWS.ID – Produsen pesawat terbang asal Amerika Serikat (AS) Boeing berencana untuk melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) 17.000 karyawannya. Jumlah tersebut setara 10 persen dari total tenaga kerja perusahaan tersebut di seluruh dunia.

Melansir dari Tribun, menurut laporan Reuters, pengumuman ini dirilis langsung oleh CEO Boeing Kelly Ortberg lewat sebuah memo kepada karyawan, setelah aksi mogok 33 ribu pekerja di pabrik Pantai Barat AS pada pertengahan September kemarin.

Pemogokan kerja digelar karyawan Boeing selama sepekan, sebagai bentuk protes pada perusahaan agar meningkatkan tawaran upah para staf dan mengembalikan dana pensiun yang telah dicabut satu dekade lalu.

ADVERTISEMENT

Pekerja menginginkan kesepakatan tersebut sebagai imbalan untuk mempertahankan produksi pesawat di Negara Bagian Washington. Namun perselisihan tersebut tak kunjung mendapatkan jalan keluar.

Kelly Ortberg yang merupakan CEO baru di Boeing bahkan merasa kesulitan dalam mengelola pemogokan kerja yang terjadi di awal masa jabatan.

Imbas masalah ini saham Boeing anjlok tajam hingga lembaga pemeringkat kredit Global, Moody’s memangkas peringkat utang jangka panjang Boeing menjadi Baa3, peringkat investasi terendah dalam sejarah perusahaan.

Analis Jefferies Sheila Kahyaoglu memperkirakan bahwa Boeing merugi sebesar 1,3 miliar dolar AS miliar selama pemogokan berlangsung.

Lewat pemecatan 17.000 karyawan diharap perusahaan dapat menyesuaikan kondisi keuangan setelah aksi mogok 33 ribu pekerja Pantai Barat AS yang berbuntut pada menyetop produksi jet 737 MAX, 767 dan 777.

Sejalan dengan rencana PHK tersebut, Boeing mengungkap akan mengakhiri program cuti bagi karyawan bergaji tetap yang diumumkan pada bulan September. Serta opsi untuk melakukan penjualan saham biasa serta surat berharga seperti obligasi wajib konversi dan ekuitas preferen untuk mengumpulkan sekitar 10 miliar dolar AS.

Langkah ini dilakukan agar perusahaan bisa segera melunasi utang yang telah menumpuk sebesar 60 miliar dolar AS dan menutup kerugian arus kas operasi senilai 7 miliar dolar AS.

Editor: Andika
Sumber: Tribun

ADVERTISEMENT
RMNEWS