TASIKMALAYA, RMNEWS.ID – Nasib memilukan dialami warga yang tinggal di sekitar tempat pembuangan sampah akhir (TPSA) Ciangir di Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya mengalami masalah serius akibat pencemaran lingkungan. Hal ini disebabkan oleh kerusakan pada Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di lokasi tersebut.
Hal tersebut diperparah dengan masuknya air dari tumpukan sampah langsung ke saluran air atau sungai, sehingga mengakibatkan puluhan kolam ikan milik warga terkontaminasi dan mengakibatkan banyak ikan mati. Selain itu, peningkatan kasus penyakit kulit juga dilaporkan di daerah tersebut.
Agus, yang menjabat sebagai Ketua RW 07 di Kelurahan Mugarsari, membenarkan bahwa banyak warga mengalami kerugian akibat kolam ikan mereka tercemar.
“Ada puluhan kolam ikan terdampak, semua ikannya mati. Pokoknya yang ada di Kelurahan Mugarsari dan Tamansari semuanya mengalami kerusakan.” katanya, dilansir dari bisik.
Menurut Agus, masalah ini sudah berlangsung sekitar satu bulan yang lalu dan pemerintah telah memberikan ganti rugi berdasarkan jumlah ikan yang mati kepada pemilik kolam tersebut. Namun, keadaan ini membuat kolam-kolam ikan tidak dapat digunakan untuk diisi ikan baru.
Selain kerugian akibat kematian ikan, banyak warga juga mengeluhkan gangguan kesehatan, terutama penyakit kulit.
“Banyak dari mereka yang menderita gatal-gatal, karena air yang mereka gunakan terkontaminasi.” ungkap Agus.
Ketua Komisi III DPRD Kota Tasikmalaya, Anang Sapa’at, juga menyoroti situasi ini dan mendesak pemerintah kota untuk segera memperbaiki IPAL yang sudah rusak ini. Anang menjelaskan bahwa saat ini, air serapan dari TPSA Ciangir sudah berwarna hitam bahkan setelah melalui proses di sembilan kolam penyaringan, karena semua mesin penyaring tidak berfungsi. Dan menurutnya, untuk memperbaiki situasi ini, perbaikan harus segera dilakukan.
Anang menekankan bahwa perlu ada alokasi anggaran untuk perbaikan IPAL. “Dinas terkait sudah melakukan beberapa perbaikan tetapi sering kali mengalami kegagalan, kita butuh perbaikan menyeluruh dan menggunakan konsultan terpercaya,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk bersabar dan menginginkan agar mereka menggunakan air kemasan sementara waktu untuk kebutuhan sehari-hari.
Dia juga mengajak Puskesmas setempat untuk melakukan pemantauan kesehatan, terutama bagi warga yang mengalami masalah akibat terpapar air yang tercemar.
“Kami minta bantuan Dinkes agar rutin memantau kesehatan untuk segera diobati jika ada yang terkena gatal-gatal,” tambah Anang.
Seiring dengan keadaan ini, Anang meminta warga untuk menghentikan aktivitas peternakan ikan, karena ia khawatir akan menyebabkan kerugian lebih banyak bagi mereka. Dalam peninjauannya, Anang menyebut bahwa air limbah yang tidak diolah mempunyai warna hitam pekat dan berbahaya bagi kolam ikan.
Aktivitas lain yang juga diperiksa adalah pabrik pengolahan plastik yang diduga berkontribusi pada pencemaran. Anang menyebut bahwa pengelolaan air limbah di pabrik tersebut terlihat mencurigakan dan perlu diteliti lebih lanjut.
Isep Suhendar, Kepala Subbagian Tata Usaha di Puskesmas Sangkali, mengkonfirmasi bahwa dalam beberapa minggu terakhir terdapat peningkatan kasus penyakit kulit dan gangguan pencernaan pada warga. Dia mencatat bahwa sudah ada tindak lanjut untuk membantu warga yang terdampak dengan memberikan layanan kesehatan gratis dan menyarankan agar mereka tidak menggunakan air dari kolam atau sungai untuk mandi atau mencuci.
Menurut Eko, petugas Kesehatan Lingkungan, hasil laboratorium menunjukkan bahwa air kolam dan sumber air warga mengandung bakteri serta zat kimia yang berbahaya.
“Kami temukan bakteri E. coli serta bakteri coliform dalam uji lab,” jelas Eko.
Situasi di TPSA Ciangir menunjukkan perlunya langkah cepat dan efektif untuk mengatasi masalah pencemaran yang dapat berakibat fatal pada kesehatan warga. Perbaikan struktural pada IPAL dan pengawasan yang ketat terhadap pembuangan limbah adalah kunci untuk memulihkan kondisi lingkungan dan kesehatan masyarakat di sekitar area ini.
Editor: Andika
Sumber: bisik


