LINGGA, RMNEWS.ID-Pendidikan tidak seharusnya berhenti ketika seseorang memasuki usia senja. Di Desa Resun Pesisir, Kecamatan Lingga Utara, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, gagasan itu mulai diwujudkan melalui Sekolah Lansia permata yang didirikan Yayasan RIZA (Rumah Inspirasi Zona Aspirasi)
Lembaga sosial, kemanusiaan, dan keagamaan yang berdiri pada 2025 itu resmi meluncurkan sekolah lansia pada Rabu, 21 Oktober 2026. Sebelumnya, sosialisasi program telah dilakukan sejak Mei 2026.
Sekolah ini hadir di wilayah terluar yang menghadapi tantangan akses dan keterbatasan layanan, dengan membawa pendekatan pendidikan yang menempatkan warga lanjut usia bukan sebagai kelompok yang semata-mata membutuhkan bantuan, melainkan sebagai manusia yang masih memiliki potensi, pengalaman, dan pengetahuan.
Saat diwawancarai , Huzaifah, salah satu pendiri sekolah, mengatakan jumlah peserta yang telah bergabung mencapai sekitar 51 orang. Antusiasme masyarakat bahkan melampaui kapasitas yang tersedia.
“Antusiasmenya luar biasa. Namun, kami belum bisa menerima semua yang berminat karena masih kekurangan tenaga pengajar,” kata Huzaifah, Senin 26 Oktober 2026
Saat ini, sekolah tersebut didukung enam tenaga pengajar. Kegiatan belajar dijadwalkan sekali sepekan, setiap Sabtu. Namun, tingginya minat warga mendorong munculnya permintaan agar kegiatan ditambah menjadi dua kali sepekan, yakni setiap Rabu dan Sabtu, pukul 14.00–17.00 WIB.
Bagi pengelola, tingginya minat itu menjadi modal sosial yang penting sekaligus tantangan untuk mengembangkan program secara berkelanjutan. Dukungan masyarakat dan semangat gotong royong turut mengiringi pendirian sekolah tersebut.
Namun, untuk menjangkau lebih banyak warga, antusiasme itu perlu diimbangi dengan ketersediaan pengajar dan pengelolaan kegiatan yang memadai.
Menempatkan Lansia sebagai Sumber Pengetahuan

Menembus Batas Wilayah 3T, Yayasan RIZA Hadirkan Sekolah bagi Lansia. (Foto/Handoyo).
Pendiri Sekolah Lansia Permata , Said Riza Fasito, mengatakan pendirian sekolah tersebut berangkat dari kepedulian terhadap pendidikan, termasuk bagi mereka yang telah memasuki usia lanjut.
Menurut dia, lansia membutuhkan ruang untuk menyalurkan pengalaman, berbagi ilmu, menceritakan perjalanan hidup, serta memberikan inspirasi kepada generasi berikutnya.
“Mereka jangan hanya dilihat dari kekurangannya. Banyak kelebihan yang mereka miliki dan bisa menjadi sumber inspirasi,” ujar Said Riza Fasito.
Pandangan itu menjadi landasan pendekatan pendidikan yang dikembangkan sekolah. Pengalaman hidup para lansia dipandang sebagai modal pengetahuan yang berharga, bukan sekadar kenangan masa lalu.
Melalui ruang belajar bersama, mereka diharapkan tetap memiliki kesempatan untuk berkembang, membangun hubungan sosial, menjaga semangat hidup, dan berkontribusi bagi lingkungan.
Pendekatan tersebut juga menempatkan pendidikan lansia dalam pengertian yang lebih luas. Belajar bukan hanya kegiatan membaca, menulis, atau menghafal, melainkan proses menjaga keberdayaan manusia sepanjang hayat.
Sebelas Dimensi untuk Menjaga Keberdayaan
Sekolah Lansia Permata merancang kegiatan berdasarkan sebelas dimensi pengembangan. Cakupannya meliputi dimensi spiritual, intelektual, fisik, emosional, sosial kemasyarakatan, vokasional, dan lingkungan.
Selain itu, terdapat dimensi reflektif untuk memaknai perjalanan hidup, inspiratif untuk membagikan pengalaman dan keteladanan, zestful untuk menumbuhkan kegembiraan serta semangat menjalani kehidupan dan aktualisasi untuk mengembangkan potensi, berkarya, serta mewujudkan cita-cita.
Kesebelas dimensi tersebut menunjukkan bahwa sekolah lansia tidak semata-mata diarahkan untuk mengisi waktu luang. Program ini berupaya menyentuh berbagai aspek kehidupan warga lanjut usia, mulai dari ketenangan batin dan kebugaran fisik hingga keterampilan, relasi sosial, dan kesempatan untuk tetap produktif.
Di wilayah pesisir seperti Resun Pesisir, ruang belajar semacam ini juga berpotensi memperkuat hubungan antargenerasi. Kisah hidup, nilai-nilai lokal, keterampilan, dan pengalaman masyarakat dapat menjadi sumber pembelajaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Bagi Yayasan RIZA, sekolah lansia merupakan bagian dari ikhtiar yang lebih luas di bidang pendidikan, sosial, ekonomi, dan pengembangan sumber daya manusia, baik di Kabupaten Lingga maupun Indonesia secara umum.
Kehadiran Sekolah Lansia Permata membawa satu pesan mendasar bahwa usia boleh bertambah, tetapi kesempatan untuk belajar, berbagi, dan memberi manfaat tidak semestinya berakhir.*
Laporan : Handoko jurnalis rmnews.id Lingga.


