MAKASSAR, RMNEWS.ID- Bentrokan berkepanjangan antara kelompok pemuda dari Kampung Borta dan Sapiria, Kecamatan Tallo, Kota Makassar, kembali memanas dan memakan korban jiwa.
Seorang pemuda bernama Sutte alias Civas dilaporkan meninggal dunia diduga akibat terkena tembakan senapan angin di bagian kepala.
Insiden ini menjadi rangkaian terbaru dari konflik antarwarga yang telah terjadi selama puluhan tahun dan melibatkan sejumlah wilayah, seperti Kampung Sapiria, Borta, Jalan Lembo, Jalan Tinumbu Lorong 148, hingga Jalan Layang.
Setelah insiden tersebut, sebuah pesan berantai tersebar luas melalui grup WhatsApp. Pesan itu menyebutkan bahwa Civas adalah “panglima perang” dari kelompok Sapiria dan kematiannya akan memicu serangan besar-besaran.
Pesan itu berbunyi: “Sekadar info jangan lewat depan Boroangin Lannampu, panglimanya Sapiria meninggal dikena senapan burung. Sebentar perang besar-besaran kalau sudah dikebumikan.” seperti diberitakan Metrotv.
Penyebaran pesan ini menambah kecemasan warga sekitar yang khawatir bentrokan susulan akan terjadi.
Kapolsek Tallo, Kompol Syamsuardi, membenarkan adanya satu korban tewas dalam bentrokan tersebut.
“Iya ada katanya, ada (yang meninggal saat bentrok Sapiria),” ujarnya saat dikonfirmasi pada Selasa (18/11/2025).
Terkait pesan berantai yang menyebar luas, Syamsuardi mengaku masih akan melakukan penyelidikan. Ia juga mengimbau warga agar tidak mendekati atau melintas di area yang rawan bentrokan.
“Saya belum tahu itu (pesan berantai), tapi saya imbau dulu jangan mendekat di situ kalau begitu ancamannya. Cari jalan lain,” katanya.
Hingga kini, kepolisian masih mendalami penyebab pasti kematian Civas. Pemeriksaan lanjutan dilakukan untuk memastikan apakah luka fatal benar berasal dari tembakan senapan angin atau faktor lainnya.
“Untuk itu kita masih melakukan pendalaman, masih penyelidikan apakah (korban terkena) peluru itu atau bagaimana,” lanjut Syamsuardi.
Bentrokan antarwarga di Kecamatan Tallo sudah berlangsung sejak tahun 1989 dan hingga kini belum menemukan titik damai. Dendam lama antar kelompok pemuda disebut sebagai salah satu pemicu utama.
Namun, spekulasi lain bermunculan. Beberapa pihak menduga bahwa konflik berkepanjangan ini merupakan bentuk pengalihan perhatian dari peredaran narkotika dalam jumlah besar yang diduga terjadi di kawasan utara Kota Makassar.**
Redaktur: Gusti Rangga
Sumber: Metrotv

