SURABAYA, RMNEWS.ID- Pulau Bawean, yang dikenal dengan kekayaan alam dan keanekaragaman hayatinya, kembali menunjukkan potensi luar biasa di sektor konservasi.
Tim SMART Patrol dari Resort Konservasi Wilayah 10 Bawean berhasil menemukan jamur langka bernama Jamur Tudung Pengantin atau secara ilmiah dikenal sebagai Phallus indusiatus.
Penemuan ini diumumkan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur, Kamis (6/11/2025). Jamur tersebut tumbuh di antara daun gugur dan akar pohon, menampilkan bentuk unik menyerupai gaun pengantin berenda putih yang menjuntai ke tanah.
Selain keindahannya yang menawan, Jamur Tudung Pengantin memiliki peran penting dalam ekosistem hutan tropis.
Jamur ini mengeluarkan aroma khas seperti buah busuk untuk menarik lalat dan serangga. Ketika serangga hinggap, mereka membawa spora jamur ke tempat lain sehingga membantu penyebaran alami jamur di berbagai area hutan.
Tak hanya itu, jamur ini juga berperan dalam penguraian bahan organik di tanah, menjadikan tanah lebih subur dan mendukung pertumbuhan tanaman lain.
Menurut BKSDA, kehadiran jamur tersebut merupakan indikator bahwa tanah di hutan Bawean masih lembab dan sehat, tanda bahwa ekosistemnya masih berjalan dengan baik.
Di sejumlah negara Asia seperti Tiongkok dan Asia Tenggara, Phallus indusiatus dikenal dengan sebutan Bamboo Fungus atau Veiled Lady Mushroom.
Jamur ini bahkan digunakan dalam masakan tradisional dan pengobatan herbal karena dipercaya mengandung zat antioksidan dan antibakteri yang baik bagi kesehatan tubuh.
Namun di Indonesia, khususnya di kawasan konservasi seperti Bawean, jamur ini tidak dimanfaatkan untuk konsumsi, melainkan dilestarikan sebagai indikator ekologis.
Keberadaannya menunjukkan bahwa sistem hutan tropis di kawasan tersebut masih alami, bersih, dan mendukung kehidupan mikroorganisme.
Penemuan Jamur Tudung Pengantin di Bawean menjadi bukti nyata bahwa pengelolaan konservasi di pulau tersebut berjalan efektif.
Tim patroli dari BKSDA tidak hanya berfokus pada pemantauan satwa besar seperti rusa dan kera, tetapi juga memperhatikan tanda-tanda kecil kehidupan alami seperti jamur dan tumbuhan hutan.
“Penemuan ini menandakan ekosistem hutan tropis di Bawean masih berfungsi dengan baik,” tulis laporan resmi BKSDA Jawa Timur.
Hasil ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya menjaga kelestarian hutan dan mikroorganisme di dalamnya, karena mereka berperan besar dalam keseimbangan alam secara menyeluruh.
Penemuan Phallus indusiatus atau Jamur Tudung Pengantin di Pulau Bawean bukan hanya menarik dari sisi keindahan, tetapi juga memberi sinyal positif bahwa alam Indonesia masih kaya dan sehat.**
Redaktur: Gusti Rangga
Sumber: Berita Jatim


