JAKARTA, RMNEWS.ID- Lanskap dunia bawah tanah (underworld) Jepang sedang mengalami transformasi radikal.
Dominasi kelompok legendaris Yakuza yang menjunjung tinggi hierarki dan kode kehormatan kini mulai tergerus oleh kemunculan Tokuryu, jenis kelompok kriminal baru yang dikenal cair, anonim, dan sangat kejam.
Istilah Tokuryu sendiri merupakan gabungan dari kata Tokumei (anonim) dan Ryudo (fleksibel).
Berbeda dengan Yakuza yang identik dengan tato dan ritual kaku, anggota Tokuryu sering kali tidak saling mengenal dan beroperasi secara digital.
Tokuryu memanfaatkan media sosial dan aplikasi pesan terenkripsi untuk merekrut anggota melalui iklan lowongan kerja palsu yang disebut yami baito (kerja paruh waktu gelap).
Dengan iming-iming “uang cepat” dan “penghasilan tinggi”, mereka menjebak anak muda hingga figur publik seperti anggota boy band yang naif.
Para rekrutan ini kemudian dipaksa menjadi “pion” untuk melakukan berbagai aksi kriminal, antara lain:
– Penipuan Telepon: Menargetkan lansia melalui skema phone scam.
– Perampokan & Penyerangan: Melakukan kekerasan fisik untuk memeras uang tunai dalam jumlah besar.
– Pengantaran Uang: Menjadi kurir hasil kejahatan guna memutus rantai pelacakan polisi.
Data terbaru menunjukkan betapa masifnya aksi mereka. Kerugian akibat penipuan terorganisir di Jepang mencapai US$ 474 juta (sekitar Rp 7,5 triliun) hanya dalam periode Januari hingga Juli 2025, angka yang melampaui total kerugian tahun sebelumnya.
Takanori Kuzuoka (28), mantan pelaksana operasi Tokuryu yang kini mendekam di penjara, memberikan kesaksian mengenai cara kerja organisasi ini.
Ia mengaku bekerja di bawah perintah pemimpin bertopeng yang identitasnya tidak pernah ia ketahui.
“Saya tidak mengerti apa manfaatnya menjadi seorang Yakuza di zaman sekarang ini,” ujar Kuzuoka, dikutip dari Bloomberg.
Ia bahkan pernah memimpin geng yang mengikat anak-anak dengan lakban untuk memeras uang senilai US$ 191.000 dari sebuah keluarga.
Di sisi lain, Yakuza tradisional sedang sekarat. Pengetatan undang-undang antara 1992 dan 2011 membuat jumlah anggota mereka anjlok hingga 80%, menyisakan hanya 18.800 orang pada tahun lalu.
Seorang anggota senior Yakuza mengaku bahwa generasi milenial dan Gen Z tidak lagi tertarik pada karier Yakuza yang lambat dan penuh aturan.
“Mereka tidak suka dibelenggu oleh aturan dan ritual, jadi mereka beralih ke Tokuryu,” ungkapnya.
Menariknya, Yakuza tradisional cenderung membenci metode Tokuryu yang menargetkan orang miskin dan rentan.
Pihak berwenang Jepang telah menetapkan Tokuryu sebagai ancaman prioritas utama. Pada Oktober 2025, satuan tugas khusus beranggotakan 100 petugas dibentuk untuk memberantas jaringan ini.
Namun, pelacakan terbukti sulit karena sistem “kelompok proyek” sekali pakai yang mereka gunakan.
Setelah misi selesai, para anggota langsung membubarkan diri tanpa mengetahui siapa otak di balik operasi tersebut.
Polisi juga mencurigai adanya peran kelompok “Hangure” (geng semi-Yakuza) sebagai pendorong utama di balik fenomena Tokuryu ini.**
Redaktur: Gusti Rangga
Sumber: Bloomberg


