TASIKMALAYA, RMNEWS.ID- Semangat pengabdian di bidang kesehatan tak selalu berakhir ketika masa pensiun tiba.
Hal inilah yang tercermin dari sosok Ibu Tita Switarsih, mantan perawat yang pernah puluhan tahun mengabdi di Puskesmas Taraju, Tasikmalaya, Jawa Barat dan sejumlah rumah sakit.
Meski telah purna tugas secara administratif, dedikasi Ibu Tita justru menemukan bentuk baru melalui praktik mandiri yang ia buka di kediamannya sendiri untuk melayani masyarakat, khususnya warga kurang mampu.
Selama berkarier sebagai perawat, Ibu Tita dikenal luas oleh pasien dan rekan sejawat sebagai sosok yang ramah, dermawan, serta memiliki empati tinggi terhadap kondisi pasien.
Pengalaman panjangnya di fasilitas kesehatan membuatnya memahami betul kebutuhan dasar masyarakat akan layanan medis yang mudah dijangkau, cepat, dan manusiawi.
Nilai-nilai itulah yang terus ia pegang hingga kini, meski tak lagi terikat jam dinas resmi.
Keputusan membuka praktik mandiri setelah pensiun bukanlah perkara spontan. Bagi Ibu Tita, pensiun tidak serta-merta memutus tanggung jawab moral sebagai tenaga kesehatan.
“Meskipun sudah pensiun, saya merasa masih memiliki kemampuan dan tanggung jawab untuk membantu masyarakat. Saya ingin terus memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan terjangkau bagi warga yang membutuhkan,” tuturnya dengan senyum hangat.
Kerendahan hatinya tercermin dari keengganannya untuk terlalu menonjolkan diri, meski jasa yang ia berikan nyata dirasakan banyak orang.

Dalam praktik mandiri yang dijalankannya dari rumah, Ibu Tita melayani beragam kebutuhan kesehatan dasar.
Mulai dari pemeriksaan umum, konsultasi kesehatan, perawatan luka, pemberian imunisasi, hingga layanan kesehatan lain sesuai kompetensi keperawatan yang ia miliki.
Fleksibilitas menjadi keunggulan utama praktik ini, sebab jam pelayanan tidak dibatasi secara kaku. Warga dapat datang menyesuaikan kebutuhan, terutama dalam kondisi mendesak.
Manfaat kehadiran praktik mandiri tersebut dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar. Roni, salah seorang warga yang kerap memanfaatkan layanan Ibu Tita, mengaku sangat terbantu.
“Ibu Tita sangat membantu kami. Beliau selalu memberikan pelayanan yang ramah dan profesional. Tarifnya juga terjangkau, sehingga kami benar-benar terbantu,” ujarnya dengan nada terharu.
Bagi warga seperti Roni, praktik mandiri ini bukan sekadar layanan medis, melainkan juga ruang aman untuk mendapatkan perhatian dan kepedulian.
Dedikasi Ibu Tita Switarsih menjadi cermin bahwa pengabdian di dunia kesehatan tidak dibatasi usia maupun status kepegawaian.
Langkahnya membuka praktik mandiri di rumah menunjukkan bahwa keahlian dan empati dapat terus memberi dampak positif bagi masyarakat.
Semangatnya layak diapresiasi dan dijadikan inspirasi bagi tenaga kesehatan lainnya untuk terus menempatkan kemanusiaan sebagai inti dari profesi yang dijalani.**
Redaktur: Gusti Rangga
Laporan: Panca/Roni RMNEWS.ID Tasikmalaya

