LINGGA, RMNEWS.ID- Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Lingga menggelar kegiatan Gerakan Masyarakat Magrib Mengaji di Masjid Nurul Ikhsan, Desa Mentuda, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau, Sabtu (13/12/2025).
Kegiatan ini menjadi ikhtiar nyata untuk menghidupkan kembali denyut keagamaan di masjid sekaligus menjangkau masyarakat yang tinggal di wilayah pulau terluar kepulauan Lingga.
Desa Mentuda bukan wilayah yang mudah dijangkau. Dari Daik Lingga, pusat pemerintahan Kabupaten Lingga, perjalanan laut menuju desa tersebut memakan waktu sekitar satu jam tiga puluh menit menggunakan perahu pompong.
Pada siang hari pelaksanaan kegiatan, angin bertiup cukup kencang dengan gelombang laut yang sesekali meninggi, membuat perahu kecil yang ditumpangi rombongan KUA terayun di tengah laut.
Kondisi ini mencerminkan tantangan geografis yang menjadi bagian dari keseharian masyarakat kepulauan.

Meski demikian, keterbatasan jarak dan cuaca tidak menyurutkan langkah KUA Lingga untuk tetap menghadirkan pelayanan keagamaan secara langsung kepada masyarakat.
Di tengah kondisi geografis yang menantang, kehadiran negara melalui layanan keagamaan justru menjadi semakin bermakna.
Dalam sambutannya di Masjid Nurul Ikhsan, Muhammad Amin, S.H.I., menyampaikan bahwa masjid tidak cukup hanya difungsikan sebagai tempat ibadah ritual semata.
Masjid, menurutnya, harus dimaksimalkan sebagai pusat pembinaan umat dan penguatan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan masyarakat.
“Masjid harus kembali menjadi rumah bersama umat, tempat belajar, bertanya, dan memperkuat akhlak. Dari masjid, peradaban kecil di desa bisa tumbuh,” ujar Muhammad Amin.
Ia menegaskan bahwa kegiatan Magrib Mengaji merupakan bagian dari upaya menghidupkan kembali tradisi keilmuan Islam yang sejak dahulu berangkat dari masjid, dengan melibatkan seluruh lapisan usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.
Kegiatan tersebut diisi dengan ceramah keagamaan oleh Ustadz Yuswa Darma, Da’i Hinterland Provinsi Kepulauan Riau.
Dalam tausiyahnya, ia menekankan pentingnya membiasakan anak-anak dan keluarga mengisi waktu selepas Magrib dengan membaca dan memahami Al-Qur’an, bukan hanya sebagai bacaan, tetapi sebagai pedoman hidup yang membentuk karakter masyarakat pulau yang religius, tangguh, dan beradab.

Acara ini turut dihadiri oleh perangkat desa, tokoh agama, majelis taklim, anak-anak TPA/TPQ, serta para guru dan kepala sekolah di Desa Mentuda.
Suasana Masjid Nurul Ikhsan tampak hidup dan khidmat. Anak-anak duduk bersila dengan tertib, sementara para orang tua mengikuti rangkaian kegiatan dengan penuh perhatian.
Kegiatan Gerakan Masyarakat Magrib Mengaji ditutup dengan sesi tanya jawab antara jamaah dan pemateri.
Dalam dialog yang berlangsung hangat dan terbuka tersebut, warga menyampaikan berbagai persoalan keagamaan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari pendidikan anak hingga praktik ibadah di lingkungan keluarga.
Di pulau kecil yang dikelilingi hamparan laut luas, Gerakan Magrib Mengaji malam itu menjadi simbol bahwa cahaya ilmu dan nilai-nilai keagamaan dapat terus dinyalakan, sejauh apa pun jarak dan seberat apa pun tantangan yang harus ditempuh.**
Redaktur: Gusti Rangga

