LINGGA,M RMNEWS.ID-Sebuah uku tidak semestinya hanya menjadi benda yang berdebu di rak. Ia harus berjalan, dibaca, diperdebatkan, dan menjadi jembatan yang mengenalkan sebuah daerah kepada dunia.
Semangat itulah yang dibawa penulis Hamka Kedang ketika menyerahkan buku Destinasi Cinta – Bunda Tanah Melayu kepada Bimbel Privata Moa di ruang bimbel, Dabo Singkep, Minggu (16/8/2026).
Penyerahan buku tersebut berlangsung di sela kegiatan doa bersama menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Buku itu diterima oleh Direktur Privata Moa, Saverius Moa, bersama para tutor dan simpatisan yang hadir.
Hamka mengatakan, penyerahan buku tersebut bukan sekedar pemberian karya, melainkan sebuah kenang-kenangan sekaligus pesan kepada generasi muda agar tidak menjauh dari tradisi membaca dan menulis.
“Buku ini saya titipkan sebagai kenang-kenangan. Lebih dari itu, saya berharap generasi kita semakin mencintai literasi. Dari tulisan, kita bisa mengenalkan Lingga kepada masyarakat luas,” ujar Hamka.
Baginya, Lingga bukan hanya wilayah yang memiliki bentang alam dan sejarah panjang. Lingga juga memiliki cerita, budaya, tradisi, tokoh, dan kekayaan intelektual yang layak dituliskan agar tidak berhenti sebagai ingatan lisan.
Di tengah derasnya arus informasi digital, Hamka menilai budaya literasi justru semakin penting.
Menulis tentang daerah sendiri, menurut dia, merupakan salah satu cara sederhana untuk ikut mengangkat identitas Lingga ke ruang yang lebih luas.
“Kalau kita tidak menuliskan cerita tentang daerah kita, jangan heran jika suatu hari orang luar justru lebih banyak bercerita tentang kita,” katanya.
Direktur Privata Moa, Saverius Moa, menyambut baik penyerahan buku tersebut. Ia mengatakan, dukungan terhadap gerakan literasi sejalan dengan semangat pendidikan yang dibangun Privata Moa.
Saverius menyatakan mendukung penuh niat baik Hamka dalam mendorong generasi muda agar lebih dekat dengan buku, membaca, dan karya-karya yang mengangkat potensi daerah.
Penyerahan Destinasi Cinta – Bunda Tanah Melayu itu akhirnya menjadi lebih dari sekedar seremoni.
Di ruang bimbel sederhana di Dabo Singkep, sebuah buku dititipkan dengan harapan besar agar generasi Lingga tidak hanya menjadi penonton sejarah, tetapi ikut menuliskan dan mengenalkan tanah kelahirannya kepada dunia.*
Laporan : Handoyo wartawan rmnews.id Lingga.
























































