BATAM, RMNEWS.ID-Mata uang Rupiah berada di level Rp17.877 per dolar AS, dan terhadap dolar Singapura berada di level Rp13.982. Kondisi ini menjadi perhatian pelaku pasar dan masyarakat karena berpengaruh terhadap biaya impor, perjalanan ke luar negeri, hingga harga sejumlah barang yang bergantung pada bahan baku dari luar negeri.
Tak hanya itu, melemahnya mata uang Indonesia tersebut terhadap dolar Amerika Serikat (USD) maupun dolar Singapura (SGD) terjadi di tengah kuatnya sentimen global yang mendorong penguatan mata uang utama dunia.
Rupiah masih berada dalam tekanan sepanjang 2026 akibat ketidakpastian global, terutama dampak konflik geopolitik dan tingginya harga energi.
Pada Mei lalu, Bank Indonesia bahkan menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin untuk membantu menstabilkan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh rekor terendah terhadap dolar AS.
Berdasarkan data kurs referensi Bank Indonesia pada Selasa (2/6), kurs dolar AS berada di kisaran Rp17,793.52, Dolar Singapura pada kisaran Rp13,924.08.
Analis menilai pelemahan rupiah dipengaruhi oleh kuatnya dolar Amerika Serikat, tingginya harga energi global, dan meningkatnya ketegangan geopolitik yang mendorong investor mencari aset yang lebih aman.
Nilai tukar dapat berubah setiap saat tergantung kondisi pasar, sehingga kurs di bank, money changer, atau aplikasi transfer internasional bisa sedikit berbeda dari kurs tengah pasar.***
(rm/net).























































