JAKARTA, RMNEWS.ID – Raksasa industri keuangan Visa menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan pembelajaran mesin untuk menekan praktik penipuan yang menggunakan AI.
Kepala global solusi risiko dan identitas di Visa, James Mirfin mengungkapkan bahwa perusahaan mencegah aktivitas penipuan senilai USD 40 miliar atau sekitar Rp 651,8 triliun dari Oktober 2022 hingga September 2023.
Mirfin mengungkapkan, taktik penipuan yang digunakan pelaku termasuk menggunakan AI untuk membuat nomor akun utama dan mengujinya secara konsisten.
Dikutip dari Liputan6, Jum’at(26/7/2024), dengan menggunakan bot AI, pelaku dapat ditemukan berulang kali mencoba mengirimkan transaksi online melalui kombinasi nomor akun utama, nilai verifikasi kartu (CVV), dan tanggal kedaluwarsa, hingga mereka mendapatkan respons persetujuan.
Metode ini, yang dikenal sebagai serangan enumerasi, menyebabkan kerugian penipuan senilai USD 1,1 miliar atau Rp.17,9 triliun setiap tahunnya, yang merupakan bagian signifikan dari keseluruhan kerugian global akibat penipuan, menurut Visa.
Setiap transaksi diberi nilai resiko secara waktu nyata(real time) yang membantu mendeteksi dan mencegah serangan enumerasi dalam transaksi di mana pembelian diproses dari jarak jauh tanpa kartu fisik melalui pembaca kartu atau terminal.
Dengan menggunakan AI, Visa juga menilai kemungkinan penipuan untuk permintaan penyediaan token, untuk mencegah penipu yang memanfaatkan rekayasa sosial dan penipuan lainnya menyediakan token secara ilegal dan melakukan transaksi penipuan.
Dalam lima tahun terakhir, Visa telah menginvestasikan USD 10 miliar atau Rp 162,9 triliun dalam teknologi yang membantu mengurangi penipuan dan meningkatkan keamanan jaringan.
Penjahat dunia maya yang menggunakan AI generatif untuk melakukan penipuan dapat melakukannya dengan biaya yang jauh lebih murah dengan menargetkan beberapa korban sekaligus menggunakan sumber daya yang sama atau lebih sedikit, kata Pusat Layanan Keuangan Deloitte dalam sebuah laporan.
“Insiden seperti ini kemungkinan akan berkembang di tahun-tahun mendatang karena pelaku kejahatan menemukan dan menggunakan AI generatif yang semakin canggih, namun terjangkau, untuk menipu bank dan nasabah mereka,” ungkap laporan tersebut, yang memperkirakan bahwa AI generatif dapat meningkatkan kerugian penipuan hingga USD 40 miliar di AS pada tahun 2027, dari USD 12,3 miliar pada tahun 2023.
Editor:Andika
Sumber:Liputan6
























































