BATAM, RMNEWS.ID – Baru-baru ini, perhatian publik menyoroti sebuah video viral dari akun MrBert di Instagram yang mengungkap adanya kebocoran data terkait sistem identifikasi sidik jari otomatis di Indonesia, atau dikenal dengan INAFIS. Video tersebut menyatakan bahwa informasi yang bocor dapat dimanfaatkan untuk memblokir rekening bank.
Dalam video tersebut, MrBert memajang tangkapan layar dari situs SOCRadar dan BreachForum, yang mendokumentasikan kebocoran data INAFIS yang menjadi perbincangan hangat beberapa bulan lalu. MrBert juga mengunggah tangkapan layar lain dari penjual data eKTP Indonesia yang mencakup informasi penting seperti nama ibu kandung.
Ia mengklaim bahwa data yang bocor ini dapat digunakan untuk menonaktifkan sebuah rekening bank. Bahkan, ia memperlihatkan momen saat berkomunikasi dengan nomor yang ia katakan sebagai layanan pelanggan suatu bank, menunjukkan betapa mudahnya ia mengakses informasi dengan data tersebut.
“Data ini dijual pada tanggal 19 Oktober 2023. Ini termasuk data NIK, KTP, hingga nama ibu kalian.” Katanya, dilansir dari bisik, Senin (4/11/2024).
Untuk mendapatkan perspektif yang lebih jelas mengenai isu ini, kami menghubungi Alfons Tanujaya, seorang pengamat keamanan siber dari Vaksincom. Ia menjelaskan bahwa meski kebocoran data tersebut memang nyata, dramatisasi dalam video tersebut terasa berlebihan.
“Kebocoran datanya memang ada dan bisa disalahgunakan untuk mengaku sebagai pemilik rekening,” ungkap Alfons. “Namun, ini tidak serta-merta berarti bahwa seseorang bisa mengambil alih rekening atau mentransfer dana,” tambahnya.
Alfons melanjutkan, untuk benar-benar mengambil alih sebuah rekening bank, diperlukan data tambahan, terutama kode OTP (One Time Password).
“Seandainya penipu berhasil menghubungi bank dan melalui proses verifikasi, mereka tetap tidak dapat mengakses akun tersebut tanpa kode OTP yang ketat,” jelasnya.
Walaupun begitu, Alfons menyatakan bahwa kebocoran data yang ada memang dapat dieksploitasi, termasuk nama gadis ibu kandung yang sangat sensitif. Ia mengingatkan bahwa risiko tertinggi dari data yang bocor adalah kemungkinannya untuk digunakan dalam memblokir rekening bank seseorang.
“Meskipun tidak bisa mengambil alih dana atau rekening, dampaknya tetap ada,” tegas Alfons.
Secara keseluruhan, penting bagi masyarakat untuk tetap waspada mengenai kebocoran data pribadi dan cara melindungi informasi yang sangat penting untuk keamanan finansial.
Editor: Andika
Sumber: bisik
























































