LINGGA, RMNEWS.ID-Halaman Replika Istana Damnah di Daik Lingga kembali menjadi ruang perjumpaan antara tradisi, agama, dan ingatan sejarah. Mandi Safar digelar sebagai bagian dari upaya merawat warisan budaya Melayu yang telah hidup di tengah masyarakat Lingga dari generasi ke generasi.
Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Lingga, Muhammad Amin, S.H.I., turut hadir dalam kegiatan tersebut bersama tokoh agama, tokoh adat, Kementerian Agama Kabupaten Lingga, Camat Lingga, Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Kepulauan Riau Kabupaten Lingga, serta berbagai lapisan masyarakat.
Kegiatan yang digagas Pemerintah Kecamatan Lingga bersama Lembaga Adat Melayu Kecamatan Lingga itu berlangsung dalam suasana khidmat sekaligus penuh kebersamaan.
Tradisi Mandi Safar tidak sekedar dipandang sebagai kegiatan budaya, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk menghidupkan kembali nilai-nilai spiritual dan sosial yang diwariskan para pendahulu.
Di Daik, Mandi Safar berkembang sebagai tradisi masyarakat yang berkaitan dengan doa memohon keselamatan dan perlindungan dari berbagai marabahaya. Sumber kebudayaan pemerintah mencatat tradisi tersebut telah berlangsung sejak masa Kesultanan Riau-Lingga, khususnya pada masa pemerintahan Sultan Abdurrahman Muazamsyah pada 1883–1911.
Di tengah perubahan zaman, tradisi itu menemukan makna baru yang tetap berakar pada nilai lama yaitu manusia menyadari keterbatasan dirinya dan membutuhkan pertolongan Allah.
Mandi dalam tradisi tersebut dapat dimaknai secara simbolis sebagai momentum membersihkan diri, memperbanyak doa, memohon ampun, serta melakukan perenungan untuk memperbaiki kehidupan.
Dengan demikian, warisan budaya tidak berhenti pada seremoni, tetapi dapat menjadi ruang refleksi bagi masyarakat.
Kehadiran unsur pemerintah, tokoh agama dan tokoh adat dalam kegiatan ini juga memperlihatkan bahwa kebudayaan dan kehidupan keagamaan di Lingga memiliki ruang perjumpaan yang kuat.
Tradisi dirawat, sementara nilai-nilai kebaikan di dalamnya terus diberi makna sesuai dengan kehidupan masyarakat hari ini.
Bagi Muhammad Amin, kehadiran dalam kegiatan budaya masyarakat merupakan bagian dari membangun kedekatan antara KUA dan masyarakat.
KUA tidak hanya hadir dalam urusan administrasi keagamaan, tetapi juga berada di tengah denyut kehidupan sosial dan budaya masyarakat.
Replika Istana Damnah pun seolah menjadi latar yang tepat. Di tempat yang mengingatkan masyarakat pada kejayaan Kesultanan Lingga-Riau itu, generasi hari ini kembali berkumpul untuk mengenang warisan leluhur.*
Laporan : Handoko wartawan rmnews.id Lingga.
























































