BANDAR LAMPUNG, RMNEWS.ID- Dalam sepekan terakhir tercatat sebanyak 7 kali kejadian bunuh diri di Provinsi Lampung. Penyebab para korban melakukan bunuh diri tersebut bervariasi, mulai dari depresi yang dipicu faktor ekonomi hingga permasalahan keluarga.
Dari ketujuh kasus bunuh diri tersebut terdapat enam korban meninggal dunia dan satu korban selamat. Namun korban yang selamat itu harus rela kehilangan satu lengan kanannnya. Adapun lima korban berjenis kelamin laki laki dan dua korban perempuan.
Mengutip laman Liputan6, Jumat 26 Juli 2024, menanggapi fenomena bunuh diri yang belakangan marak di Lampung, seorang Psikolog bernama Retno Riani membeberkan cara mencegah tindakan kurang terpuji tersebut.
Dia mengatakan, peristiwa tersebut dapat dicegah apabila ada support system (orang yang memberikan dukungan praktis serta emosional) dari orang terdekat.
“Karena biasanya korban bunuh diri didominasi oleh depresi dan tidak punya tempat bercerita, oleh sebab itu, orang terdekat punya peran penting untuk memberikan dukungan support system. Kemampuan empati inilah yang diperlukan dan pertolongan pertama supaya dia mengurangi persoalannya,” kata Psikolog Lampung, Retno Riani, Kamis (25/7/2024).
Menurut dia, kasus bunuh diri itu diibaratkan sama seperti dengan fenomena gunung es, semakin lama jumlahnya maka semakin besar.
“Biasanya persoalannya banyak, antara lain depresi karena gangguan bipolar, kemudian terhimpit utang, tidak mampu menyelesaikan konflik dengan baik sehingga mengambil jalan itu, walaupun biasanya ada orang yang tertutup, kepribadiannya tertutup dan tidak ada dukungan keluarga,” paparnya.
Dia menyebutkan, ada beberapa cara untuk mengetahui orang yang sedang mengalami depresi.
“Pertama, suka murung, tidak mau keluar kamar, tidak mau berkontak mata dengan orang lain, ada persoalan sedikit terus tersinggung dan sensitif serta mudah menangis,” ungkapnya.
Dia menambahkan, ada cara untuk mencegah peristiwa bunuh diri itu terjadi lagi, salah satunya adalah menghubungi nomor seluler yang telah disediakan oleh Kementerian Kesehatan.
“Kemenkes mempunyai hotline service 119 bagi orang yang mengalami kejiwaannya terganggu. Disitu bisa ditelfon, bisa mengirim pesan langsung, kalau misalnya korban merasa ada sesuatu yang bermasalah pada dirinya sehingga bisa bercerita dan membuat lega,” pungkasnya.
Editor: Gusti Rangga
Sumber: Liputan6
























































