KUALA LUMPUR, RMNEWS.ID – Dua wanita Palestina menjadi pusat perhatian dalam keributan di lobi fasilitas transit Kuala Lumpur, Malaysia. Akibatnya, mereka dikabarkan akan dipulangkan ke Gaza usai kejadian tersebut.
Melansir dari CNA, Rabu (9/10/2024), media The Star melaporkan bahwa pada tanggal 2 Oktober, sebuah keributan yang melibatkan sekelompok orang Palestina yang melakukan aksi melemparkan alas kaki, berteriakan-teriak, dan penghancuran sebuah vas bunga.
Video yang diunggah ke media sosial menunjukkan beberapa orang dari kelompok tersebut dengan marah menyerbu lobi Wisma Transit KL (WTKL), berteriak dan berdebat dengan keras dengan orang-orang yang tampak seperti petugas berseragam, serta menendang alat bantu jalan seorang anak.
Video lainnya menunjukkan sekelompok orang dewasa dan beberapa anak kecil yang menduduki bagian lobi, dengan beberapa berteriak marah ke arah orang yang mengambil gambar sambil menghentakkan kaki mereka.
Video ketiga menunjukkan sebuah vas bunga besar pecah di lantai, di samping meja yang mungkin menjadi tempat vas bunga tersebut.
Sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Angkatan Bersenjata Malaysia, seperti yang dilaporkan oleh The Star, memberikan penjelasan atas apa yang sebenarnya terjadi.
Pernyataan tersebut mengungkapkan, diduga ada beberapa orang Palestina yang tidak senang karena petugas penegak hukum tidak mengizinkan salah satu dari mereka untuk tetap berada di luar.
Sontak, orang tersebut kemudian membuat keributan di depan pos penjagaan fasilitas tersebut, bersama dengan beberapa teman dan keluarganya.
Ketika seorang petugas yang sedang bertugas berusaha meminta mereka untuk meninggalkan area tersebut, mereka malah memasuki lobi utama WTKL, dan menimbulkan kegaduhan dengan merusak beberapa dekorasi, termasuk sebuah koper, dan mereka diduga melemparkan sandal ke arah petugas.
Ada perwakilan dari Kedutaan Besar Palestina yang hadir dan telah mencoba untuk menghentikan kerusuhan tersebut namun gagal.
Warga Palestina yang disebutkan di atas merupakan bagian dari kelompok 127 orang yang dibawa ke Malaysia dari Kairo, Mesir oleh Malaysia pada Agustus 2024 lalu untuk mendapatkan perawatan medis untuk 41 orang di sana, dan sisanya adalah kerabat mereka.
Langkah ini dilakukan untuk menunjukkan solidaritas kepada rakyat Palestina, dengan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim yang merupakan pendukung vokal perjuangan Palestina.
Mereka adalah penerima perawatan medis tidak dapat dirawat di Gaza karena operasi militer yang sedang berlangsung oleh militer Israel.
Namun, langkah Anwar tidak mendapat dukungan dari seluruh masyarakat, meskipun ia terus mendukung perjuangan Palestina.
Kritik terhadap keputusan Anwar untuk menawarkan perawatan medis bagi kelompok Palestina cukup serius sehingga Anwar merasa harus membela tindakannya beberapa minggu kemudian.
Beberapa orang Palestina, termasuk yang terlibat dalam keributan, ditempatkan di WTKL.
WTKL digambarkan oleh The Star sebagai “kompleks perhotelan” yang menawarkan akomodasi bergaya hotel.
Tempat ini diperuntukkan bagi personil militer Malaysia, termasuk staf sipil Kementerian Pertahanan Malaysia, dan keluarga mereka yang sedang dalam perjalanan, seperti ke Malaysia Timur.
Warga Palestina yang ditempatkan di WTKL tidak diizinkan meninggalkan tempat tersebut karena mereka secara teknis sedang dalam perjalanan.
MalaysiaKini melaporkan bahwa seorang wanita yang terlibat dalam keributan tersebut telah meminta maaf dan menyatakan penyesalan atas tindakannya.
Dia dan juga warga Palestina lainnya berterima kasih karena diperlakukan dengan baik di Malaysia, dengan kebaikan, rasa hormat, dan apresiasi.
Dia menjelaskan bahwa dia masih berduka atas kematian tiga anaknya, dan menjadi tertekan karena kehilangan kontak dengan anak-anaknya yang lain yang masih berada di Gaza.
Disisi lain, Duta Besar Palestina untuk Malaysia juga mengutuk insiden tersebut, dan mengatakan bahwa hal tersebut tidak mencerminkan “perilaku warga Palestina pada umumnya”.
The New Straits Times melaporkan bahwa duta besar tersebut telah bertemu dengan perwakilan dari Kementerian Pertahanan, dan mengatakan bahwa dua wanita yang terlibat dalam keributan tersebut akan dikirim kembali ke Gaza.
Dia mengatakan bahwa orang-orang Palestina di Malaysia yang tidak senang dapat kembali ke tempat asal mereka, dan mengirim kedua wanita itu kembali sebagai pelajaran bagi orang lain.
Dia mendesak mereka untuk menghargai apa yang dilakukan pemerintah Malaysia untuk membantu mereka, dan menghormati hukum Malaysia selama mereka berada di Malaysia.
Ia juga meminta maaf atas nama komunitas Palestina, tetapi juga meminta pengertian warga Malaysia, dan bahwa warga Palestina yang datang ke Malaysia untuk mendapatkan perawatan medis telah mengalami “perjuangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, baik secara emosional maupun fisik” karena tindakan Israel.
Reaksi media sosial beragam, sebagian meminta pengertian, namun banyak juga yang menanggapi video tersebut dengan kasar dan bernada menghujat.
Editor: Andika
Sumber: CNA
























































