JAKARTA, RMNEWS.ID- Bencana banjir bandang di Thailand selatan memasuki fase kritis. Rumah sakit di Provinsi Songkhla mengumumkan kamar jenazah mereka telah penuh dan tidak mampu lagi menampung korban jiwa yang terus berdatangan, khususnya dari wilayah Hat Yai dan pemukiman sekitarnya.
Banjir dahsyat yang terjadi sejak awal pekan menenggelamkan permukiman, terutama di Hat Yai, kawasan yang berbatasan dekat perbatasan Malaysia.
Dampak bencana kini dirasakan tidak hanya oleh warga, tetapi juga oleh pihak rumah sakit yang kewalahan menangani lonjakan jenazah.
Rumah Sakit Songkhla terpaksa mendatangkan tiga unit truk pendingin untuk menyimpan jenazah tambahan setelah kamar mayat tidak lagi cukup.
“Kamar mayat telah melampaui kapasitasnya, jadi kami membutuhkan lebih banyak,” kata Charn, petugas kamar jenazah Rumah Sakit Songkhla, ketika korban tewas melonjak menjadi 55 orang dalam hitungan satu hari.
Krisis ini tergambar dari rekaman jurnalis AFP yang menunjukkan deretan truk pendingin putih terparkir di luar gedung rumah sakit, sebagai solusi darurat menyimpan jenazah.
Pemerintah Thailand mengonfirmasi lonjakan tajam korban jiwa. Pada Kamis malam, korban tewas di Distrik Hat Yai, Songkhla, meningkat dari 6 menjadi 55 orang dalam sehari, sehingga memicu revisi angka kematian dalam jam-jam berikutnya.
“Total kematian di seluruh provinsi selatan adalah 145,” kata juru bicara pemerintah, Siripong Angkasakulkiat, dengan 110 korban berasal dari Songkhla, wilayah terdampak paling parah.
Lebih dari 100 korban di Songkhla menjadi fokus operasi darurat pemerintah pusat di kawasan tersebut.
Banjir ekstrem membuat banyak permukiman terendam total, memaksa warga menyelamatkan diri ke atap rumah sambil menunggu evakuasi. Kondisi ini turut menjadi penyebab krisis penampungan jenazah di rumah sakit setempat.**
Redaktur: Gusti Rangga
Sumber: AFP
























































