LANGKAT, RMNEWS.ID- Sejumlah warga Nahdlatul Ulama (NU) kultural di pesisir Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, khususnya di Desa Secanggang, menyatakan dukungan penuh terhadap upaya “pembersihan” oknum-oknum yang dinilai tidak beretika di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Harapan mereka, rapat pleno Syuriah PBNU yang telah dijadwalkan dapat berjalan lancar dan menghasilkan keputusan terbaik bagi masa depan organisasi.
Dukungan tersebut disampaikan oleh T. Syaiful Anhar, Alumni LikNas ’86 GP Ansor, saat ditemui awak media di kediamannya di Dusun Tanah Tinggi, Desa Secanggang, Kabupaten Langkat, Minggu (7/12).
Menurut Syaiful, Rois Aam PBNU bersama jajaran Syuriah harus mengambil langkah tegas untuk membersihkan “noda” di internal organisasi.
Ia menyebut perlunya menyingkirkan oknum-oknum yang disebutnya “tidak punya etika dan rasa malu” dari kepengurusan PBNU.
“Roh-roh jahat yang melekat di tubuh ormas NU harus dibersihkan. Jangan ada lagi oknum yang merusak marwah NU,” ujarnya.
Syaiful, yang pernah menjabat Wakil Ketua PW GP Ansor Sumut periode 1989–1992, menilai kondisi internal NU saat ini jauh berbeda dibanding era kepemimpinan tokoh-tokoh sebelumnya, seperti Gus Dur dan KH Hasyim Muzadi.
Ia menyoroti kasus Bendahara Umum PBNU yang ditangkap KPK atas dugaan korupsi namun justru mendapat pembelaan dari sejumlah pengurus.
“Di era KH Hasyim Muzadi, kalau saya tidak salah, warga NU bahkan diharamkan ikut menshalatkan koruptor. Sekarang malah ada yang membela dan menyiapkan pengacara,” katanya.
Ia juga menduga adanya keterkaitan antara polemik penundaan sejumlah Surat Keputusan (SK) PBNU dengan keberadaan oknum tertentu yang ingin berlindung di balik organisasi.
Syaiful mengaku menerima informasi bahwa ada sosok yang kerap bolak-balik diperiksa KPK dan aparat hukum, namun tetap dapat menduduki posisi ketua di lingkungan NU.
“Kalau informasi yang saya terima itu benar, maka wajarlah kalau banyak urusan SK yang tertunda,” ungkap pria berusia 65 tahun itu mengakhiri pernyataan.
Warga NU kultural di wilayah tersebut berharap proses penataan internal PBNU dapat membawa kesejukan, kemaslahatan, dan kembali menguatkan peran NU sebagai penjaga moral keumatan dan kebangsaan.**
Redaktur: Gusti Rangga
Laporan: Supriadi MY RMNEWS.ID Sumut
























































