BEIRUT, RMNEWS.ID-Menurut sumber-sumber di lembaga keamanan, Hizbullah yakin bahwa Israel sedang merencanakan langkah untuk memecah belah Lebanon, di mana negara Lebanon akan kehilangan wilayah yang luas.
Dikutip dari The Jeruslempost, Kamis (14/5/2026), Hizbullah telah membuat rencana aksi sistematis untuk menduduki Beirut guna mengusir elemen-elemen pragmatis, demikian yang dilaporkan Walla pada hari Selasa.
Pada saat yang sama, lembaga pertahanan mengakui meningkatnya tekanan pada Sekretaris Jenderal Hizbullah Naim Qassem, yang mengklaim bahwa Israel sedang mempersiapkan langkah untuk mengambil alih wilayah yang luas di Lebanon.
Selama dua hari terakhir, Komandan Komando Utara Mayor Jenderal Rafi Milo mempresentasikan kepada Kepala Staf IDF Letnan Jenderal Eyal Zamir kemajuan signifikan dalam manuver dan kecepatan penghancuran infrastruktur teroris di puluhan desa Lebanon di Lebanon selatan.
Menurut sumber-sumber di lembaga keamanan, Hizbullah yakin bahwa Israel sedang merencanakan langkah untuk memecah belah Lebanon, di mana, menurut pandangan Hizbullah, negara Lebanon akan kehilangan wilayah yang luas.
Skenario imajiner ini, di mata Hizbullah, meningkatkan tekanan pada Qassem, yang terpaksa membagi pasukan tempurnya antara Beirut, Lebanon selatan, dan Lembah Beqaa. Menurut perkiraan Israel, semakin intensif serangan IDF, semakin besar tekanan yang akan menimpa Qassem.
Hizbullah akan mengusir pasukan yang mendukung normalisasi dengan IsraelWalla mengetahui bahwa, di tengah meningkatnya kritik di Lebanon terhadap organisasi teroris tersebut.
Seperti kritik dari presiden Lebanon, perdana menteri, dan ketua parlemen, Hizbullah memiliki rencana aksi sistematis untuk menduduki kota Beirut dan mengusir pasukan pragmatis yang mendukung pendekatan dengan Barat dan normalisasi dengan Israel.
Menurut sumber keamanan, rezim Iran telah secara drastis mengurangi transfer dana ke Lebanon. Ditambah dengan pukulan telak yang dilancarkan IDF terhadap individu dan aset ekonomi Hizbullah, termasuk bank, penukar uang, dan SPBU, Hizbullah berada dalam salah satu periode tersulitnya secara ekonomi.
Selain itu, mereka kesulitan mendukung ratusan ribu warga sipil Lebanon yang melarikan diri dari puluhan desa di bawah kendali IDF, dan mereka yang meninggalkan rumah mereka karena takut akan perluasan zona pertempuran.***
(rm/jsp).























































