GAZA, RMNEWS.ID – The World Health Organization (WHO) mengungkapkan, perang yang terus berlanjut di Gaza menghambat upaya mereka melawan penyebaran virus polio di sana.
WHO mengatakan, pihaknya sedang melancarkan gerakan melawan polio di Gaza setelah virus itu terdeteksi di sana pada (19/7/2024).
Perang yang terus terjadi di sana menjadi rintangan dalam gerakan melawan polio yang dilakukan WHO di Gaza, dikutip dari Tribun, Kamis (8/8/2024).
Diketahui, Direktur Regional WHO Hanan Balkhy mengatakan, gencatan senjata sementara diperlukan untuk kelancaran kampanye mereka.
“Kita perlu gencatan senjata, bahkan gencatan senjata sementara untuk melaksanakan kampanye ini dengan sukses. Jika tidak, kita berisiko menyebarkan virus lebih jauh, termasuk lintas batas,” kata Balkhy.
Meski belum ada kasus klinis yang terdiagnosis sejauh ini, polio terdeteksi dalam limbah di daerah Deir el-Balah dan Khan Younis di Gaza.
Hal tersebut disampaikan oleh spesialis polio dari WHO, Hamid Jafari.
Para relawan dari Departemen Perawatan Primer di cabang PRCS di Gaza Utara memberikan sesi-sesi peningkatan kesadaran masyarakat dan kesehatan mengenai kebersihan pribadi, Hepatitis A, dan polio bagi pasien yang dipantau di klinik-klinik medis cabang tersebut.
Para relawan dari Departemen Perawatan Primer di cabang PRCS di Gaza Utara memberikan sesi-sesi peningkatan kesadaran masyarakat dan kesehatan mengenai kebersihan pribadi, Hepatitis A, dan polio bagi pasien yang dipantau di klinik-klinik medis cabang tersebut.
WHO juga mengumumkan rencana untuk mengirim 1,2 juta vaksin polio ke Gaza.
Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menguraikan rencana untuk dua putaran vaksinasi, yang menargetkan 600.000 anak di bawah usia delapan tahun.
Dan vaksinasi putaran pertama akan mulai dilaksanakan pada pekan depan, Sabtu (17/8/2024).
Selanjutnya, Tedros menyampaikan, pemberian vaksin tersebut akan dilakukan dalam beberapa pekan mendatang.
Selanjutnya, ia juga menyampaikan tentang kebebasan bergerak bagi tenaga dan peralatan medis sangat dibutuhkan untuk melaksanakan upaya melawan virus tersebut.
Oleh karena itu, ia menekankan adanya gencatan senjata, sedikitnya ‘hari tenang’ selama persiapan dan pelaksanaan vaksinasi polio diperlukan di Gaza.
“Gencatan senjata, atau setidaknya ‘hari-hari tenang’ selama persiapan dan pelaksanaan vaksinasi diperlukan untuk melindungi anak-anak di Gaza dari polio,” katanya.
Sebelumnya, Kementerian Kesehatan di Gaza telah menyatakan wilayah Palestina sebagai zona epidemi polio sebulan yang lalu, tepatnya pada (30/7/2024).
Mereka menyalahkan serangan militer Israel selama 10 bulan dan penghancuran fasilitas kesehatan yang mengakibatkan munculnya virus tersebut di Gaza.
Perang Israel di Gaza telah merusak dan menghancurkan sistem pembuangan limbah serta air, sehingga tumpah ke jalan-jalan dekat tenda pengungsi Palestina.
Kementerian juga melaporkan jenis virus CPV2 terdeteksi dalam sampel air limbah yang diambil di wilayah Khan Younis di selatan Jalur Gaza, serta wilayah tengah Gaza.
Anak-anak di bawah usia lima tahun paling berisiko terkena penyakit virus ini, terutama bayi di bawah usia dua tahun, karena kampanye vaksinasi normal telah terganggu oleh konflik.
Minggu lalu, PBB melaporkan, selain terdeteksinya virus polio, telah terjadi peningkatan kasus Hepatitis A, disentri, dan gastroenteritis seiring memburuknya kondisi sanitasi di Gaza.
Hal tersebut makin mempertinggi ancaman hidup bagi warga Palestina sejak perang Israel di Gaza bulan Oktober lalu.
Diketahui, hingga kini, setidaknya 39.677 warga Palestina tewas dan 91.645 luka-luka dalam perang Israel di Gaza.
Editor: Andika
Sumber: Tribun
























































