PANGKALPINANG, RMNEWS.ID – Penambangan bijih timah ilegal di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) meresahkan warga. Sebab, hal tersebut yang semakin masif memicu kasus konflik buaya dengan masyarakat di daerah itu.
Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Alobi mengatakan bahwa aktifitas penambangan timah ilegal di kawasan itulah penyebab habitat buaya terganggu.
“Konflik buaya dengan manusia akhir-akhir ini meningkat karena habitat buaya terganggu akibat penambangan timah ilegal semakin masif,” ujar Manager PPS Alobi, Endy M Yusuf di Pangkalpinang, dikutip dari Antara, Jumat (6/9/2024).
Ia mengatakan saat ini PPS Alobi bekerja sama dengan PT Timah Tbk merehabilitasi 20 buaya yang berkonflik dengan masyarakat di Kampung Reklamasi PT Timah di Desa Air Jangkang, Bangka, guna melindungi satwa berkonflik tersebut dari kematian.
“Konflik antara buaya dan manusia ini telah menyebabkan beberapa warga meninggal dunia. Demikian juga buaya yang ditangkap masyarakat juga mati karena terkena pancing dan lainnya,” ungkap Endy.
Menurut pengamatannya, habitat buaya yang umumnya berada di sungai saat ini sudah banyak ditambang oleh tambang ilegal, sehingga buaya mencari tempat baru atau mendatangi sungai yang biasanya digunakan masyarakat untuk beraktivitas.
“Penambangan ilegal bukan hanya merusak sungai seperti pencemaran, tetapi menyebabkan kerusakan ekosistem yang berpengaruh terhadap ekologi yang ada. Buaya menyerang buas bukan hanya karena lapar, tapi juga untuk melindungi diri,” jelasnya.
Ia berharap semua pihak dapat bersama-sama untuk menjaga ekosistem satwa liar. Keberadaan satwa liar sangat penting untuk keberlangsungan ekosistem.
Editor: Andika
Sumber: Antara
























































