BATAM, RMNEWS.ID – Upaya perburuan buaya yang lepas dari penangkaran PT PJK di Pulau Bulan mulai berkurang. Tim gabungan yang dikerahkan sejak awal Januari telah berhasil menangkap kembali 39 ekor buaya yang sempat terlepas. Namun, jumlah pasti buaya yang lepas masih belum diketahui secara pasti.
Meskipun sebagian besar buaya telah ditangkap, masyarakat tetap diminta untuk waspada terhadap adanya serangan dari para buaya. Kawasan perairan Pulau Bulang dan Sagulung merupakan habitat alami dari buaya liar, yang sering kali muncul di area pemukiman. Hal ini menjadi kekhawatiran tersendiri, terutama bagi warga yang beraktivitas di sekitar alur sungai.
Salah satu kawasan yang menjadi perhatian khusus adalah alur Sungai Seilangkai. Kepala Resort BKSDA Mukakuning Rempang Batam, Yon Romby, menegaskan bahwa sungai ini memang habitat buaya liar. Oleh karena itu, pihak berwenang telah memasang plang peringatan agar warga tidak mendekati bantaran sungai tanpa keperluan mendesak.
Selain itu, masyarakat yang tinggal di area sepanjang sungai juga diimbau untuk tidak membuang sisa makanan, terutama daging ataupun darah, yang dapat mengundang buaya untuk datang mendekat. Kebiasaan ini dapat memperbesar peluang terjadinya konflik antara manusia dan buaya, mengingat hewan predator tersebut memiliki naluri berburu yang kuat terhadap aroma darah.
Kapolsek Sagulung, Iptu Rohandi Tambunan, juga menyampaikan hal yang sama. Ia mengingatkan agar para warga, terutama para pemancing dan mereka yang sering beraktivitas di sekitaran sungai untuk lebih berhati-hati.
“Mencegah lebih baik. Ini bukan hanya soal buaya penangkaran yang kabur, tetapi juga tentang buaya liar yang memang habitatnya di sini,” ucapnya, dilansir dari Batampos.
Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa pemukiman di sepanjang alur Sungai Seilangkai cukup rawan terhadap ancaman buaya. Tidak adanya pagar pembatas di sekitar pemukiman membuat buaya bisa masuk dengan mudah, sehingga membahayakan keselamatan warga.
Sunardi, seorang warga Perumahan Sagulung Raya, berharap adanya solusi dari pemerintah, seperti pembangunan pagar pengaman di sepanjang aliran sungai. “Kalau ada pagar, setidaknya lebih aman. Sekarang kami khawatir kalau tiba-tiba ada buaya masuk ke lingkungan rumah,” ujarnya.
Sementara itu, terkait perburuan buaya yang lepas dari penangkaran, tim gabungan masih akan terus melakukan pencarian. Ketua DPRD Kepri, Iman Setiawan, yang belum lama ini meninjau lokasi penangkaran PT PJK, menyebutkan bahwa hingga saat ini belum ada angka pasti mengenai jumlah buaya yang melarikan diri.
“Laporan dari perusahaan hanya 39 ekor, tapi. Itu serta merta kita yakini. Kita berharap perusahaan benar-benar serius membereskan persoalan ini. Pastikan semua buaya yang lepas kembali ditangkap, ” jelasnya.
Ketidakjelasan data ini justru menimbulkan kekhawatiran, karena buaya yang lepas kemungkinan masih berkeliaran di perairan sekitar Batam. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk tetap waspada, terutama di daerah yang berbatasan langsung dengan habitat alami buaya.
Dengan kondisi ini, upaya mitigasi dan edukasi kepada masyarakat sangat diperlukan. Selain langkah preventif seperti pemasangan pagar dan plang peringatan, diperlukan koordinasi antara pemerintah, BKSDA, serta pihak penangkaran untuk memastikan tidak akan ada lagi insiden serupa terjadi di masa mendatang.
Editor : Adhya
Sumber : Batampos























































