JAKARTA, RMNEWS.ID- Sebanyak 16 orang dilaporkan tewas dalam ledakan dahsyat di pabrik bahan peledak militer Accurate Energetic Systems (AES) di Tennessee, Amerika Serikat, pada Jumat (10/10/2025).
Chris Davis, Sheriff Humphreys County, mengonfirmasi pada Sabtu (11/10/2025) bahwa tim penyelamat tidak menemukan korban selamat di lokasi kejadian.
“Tidak ada yang selamat dari ledakan tersebut,” ujarnya, dikutip dari AFP.
Pejabat setempat menyebutkan, total 16 korban tewas dan proses identifikasi masih berlangsung dengan bantuan tim forensik DNA di lokasi.
Hingga kini, penyebab ledakan belum diketahui. Penyelidik tengah menyisir area pabrik untuk mencari bukti yang dapat menjelaskan apakah insiden ini murni kecelakaan atau melibatkan unsur pidana.
Davis menegaskan, proses investigasi bisa berlangsung lama, bahkan berbulan-bulan.
“Ini berbeda dari penanganan kecelakaan biasa atau bencana alam seperti tornado,” katanya.
Sekitar 300 petugas tanggap darurat dikerahkan untuk mengamankan lokasi, mengingat masih ada bahan peledak aktif yang berpotensi meledak.
Guy McCormick, supervisor dari Biro Alkohol, Tembakau, Senjata Api, dan Bahan Peledak AS (ATF), mengatakan para ahli bahan peledak bekerja ekstra hati-hati untuk memastikan keselamatan penyidik di lapangan.
Ledakan yang terjadi pada pagi hari itu meratakan seluruh kompleks pabrik AES dan memicu kebakaran besar. Warga di sekitar lokasi melaporkan, suara ledakan terdengar hingga bermil-mil jauhnya.
Diketahui, AES merupakan kontraktor utama Departemen Pertahanan AS (Pentagon) yang memproduksi bahan peledak untuk keperluan angkatan darat dan laut, termasuk ranjau terarah, bahan peledak pendobrak pintu, dan produk pra-paket militer lainnya.
Kompleks AES berdiri di atas lahan seluas 526 hektare dan terdiri atas delapan bangunan yang digunakan untuk produksi, penyimpanan, penelitian, serta pengujian bahan peledak.
Pabrik ini menjadi salah satu penopang ekonomi utama di wilayah pedalaman antara Sungai Tennessee dan ibu kota negara bagian, Nashville.**
Redaktur: Gusti Rangga
Sumber: AFP























































