JAKARTA, RMNEWS.ID- Banjir besar dan tanah longsor yang melanda Vietnam setelah hujan deras berhari-hari telah menewaskan sedikitnya 90 orang, sementara 12 lainnya masih dinyatakan hilang.
Pemerintah Vietnam mengonfirmasi bahwa angka ini meningkat dibandingkan laporan sebelumnya seiring ditemukannya lebih banyak korban.
Lebih dari 186.000 rumah rusak, serta lebih dari tiga juta ternak hanyut diterjang arus deras.
Kerugian ekonomi diperkirakan mencapai ratusan juta dolar, menjadikan bencana ini salah satu yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir.
Provinsi pegunungan Dak Lak menjadi wilayah paling parah terdampak, dengan lebih dari 60 korban jiwa sejak 16 November, menurut laporan AFP.
Banjir parah telah memutus akses transportasi darat di banyak wilayah. Sejumlah jalan raya utama dan rel kereta api terblokir, menghambat proses evakuasi serta distribusi bantuan.
Sekitar 258.000 orang dilaporkan kehilangan akses listrik pada Minggu (23/11/2025) pagi. Pemerintah dan otoritas energi sedang berupaya memulihkan jaringan listrik secara bertahap di wilayah yang memungkinkan.
Sumber daya dari militer dan kepolisian telah dimobilisasi untuk membantu proses evakuasi, pencarian korban, serta distribusi bantuan ke daerah-daerah terisolasi.
Perdana Menteri Phạm Minh Chính memimpin rapat darurat secara virtual dari Afrika Selatan, tempat ia menghadiri KTT G20. P
emerintah menegaskan bahwa semua sumber daya nasional akan dikerahkan untuk mempercepat penanganan bencana.
Para ilmuwan menegaskan bahwa perubahan iklim membuat Vietnam semakin rentan terhadap cuaca ekstrem.
Pemanasan global menyebabkan topan dan badai di kawasan Asia Tenggara menjadi lebih kuat, lebih sering terjadi, dan membawa volume hujan yang jauh lebih besar.**
Redaktur: Gusti Rangga
Sumber: AFP























































