MOROWALI, RMNEWS.ID- Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan dan Pertambangan (Satgas PKH) menyatakan telah menemukan sebuah bandara di kompleks industri IMIP, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, yang beroperasi tanpa pengawasan negara.
Temuan ini diungkap melalui video resmi yang diunggah di Instagram @satgaspkhofficial pada Selasa (25/11/2025).
Dalam narasi video disebutkan bahwa bandara tersebut “tidak ada pihak keamanan, tidak ada Bea Cukai, dan tidak ada Imigrasi.”
Menurut Satgas PKH dan pengakuan dari pihak yang meninjau area, bandara di IMIP memungkinkan aktivitas keluar-masuk orang dan barang tanpa kontrol resmi.
Kondisi ini menimbulkan kesan seperti “ada negara di dalam negara” — sebuah istilah yang dipakai untuk menggambarkan ketidakberesan tata kelola bandara ini.
Seluruh kru atau staf yang berada di bandara tersebut disebut bukan merupakan aparat negara, melainkan bagian dari entitas swasta.
Sketsa Nusantara
Temuan Satgas PKH memicu sorotan dari para legislator. Komisi I DPR RI melalui anggota mereka, Oleh Soleh, mengecam keberadaan bandara yang beroperasi tanpa otoritas resmi karena dianggap melanggar kedaulatan dan regulasi penerbangan nasional.
Oleh Soleh menegaskan bahwa tidak ada bandara yang boleh beroperasi tanpa pengawasan negara — tanpa aparat penerbangan, Bea Cukai, maupun Imigrasi. Menurutnya, kondisi seperti ini “tidak boleh terjadi.”
DPR meminta agar pemerintah segera melakukan penindakan, klarifikasi izin operasional, dan penempatan otoritas negara di bandara tersebut.
Menurut laporan media dan peneliti yang dikutip, bandara tanpa pengawasan negara membuka celah bagi aktivitas ilegal seperti penyelundupan barang atau mobilitas orang tanpa kontrol.
Dengan status kawasan industri besar dan potensi keluar-masuk material atau orang asing, keberadaan bandara seperti ini dianggap sebagai ancaman serius terhadap kedaulatan dan keamanan nasional.
Temuan Satgas PKH tentang bandara di kawasan IMIP yang beroperasi tanpa pengawasan negara memunculkan pertanyaan besar soal legalitas, regulasi, dan keamanan nasional.**
Redaktur: Gusti Rangga
Sumber: Kompas























































