ACEH UTARA, R MNEWS.ID- Pemerintah Kabupaten Aceh Utara secara resmi menyatakan ketidaksanggupan menangani dampak banjir besar yang melanda wilayah tersebut dalam hampir dua pekan terakhir.
Pernyataan itu disampaikan langsung oleh Bupati Aceh Utara, Ismail A Jalil, sambil menahan tangis pada Rabu (3/12/2025).
Dalam keterangannya, Ismail mengungkapkan minimnya bantuan yang diterima daerahnya sejak bencana terjadi.
Ia menyebut pemerintah pusat seolah menganggap banjir di Aceh Utara sebagai kejadian biasa, padahal kondisi di lapangan sangat memprihatinkan.
“Pusat tidak ada perhatian dan menganggap bencana di Aceh Utara sebagai bencana biasa,” ujar Ismail dengan suara bergetar, dikutip dari Suara.
Ismail mengatakan bahwa dirinya sengaja turun ke genangan banjir menggunakan payung demi menarik perhatian pemerintah pusat dan publik luas.
Ia mengaku tak peduli bila tindakannya itu menuai cibiran, karena fokus utamanya adalah menyuarakan kondisi masyarakat yang sedang menderita.
Bupati bahkan sempat terjebak di dalam banjir sebelum akhirnya dapat mencapai Posko Pendopo Bupati di Kota Lhokseumawe.
Kondisi masyarakat, terutama anak-anak, menurutnya sudah semakin mengkhawatirkan karena mulai mengalami kelaparan.
“Kekuatan pemerintah daerah tidak ada, yang ada saat ini hanya beras,” lanjutnya.
Situasi diperburuk oleh masih terisolasinya sejumlah desa di Kecamatan Langkahan.
Akses transportasi menuju wilayah itu belum dapat ditembus akibat tingginya genangan air serta lumpur tebal yang menutup jalan.
Tim penanggulangan bencana masih berupaya membuka rute evakuasi, namun keterbatasan alat berat dan kondisi geografis membuat proses berjalan lambat.
Data terbaru BPBD Aceh Utara per Rabu (3/12/2025) mencatat 121 warga meninggal dunia, sementara 118 lainnya masih dinyatakan hilang.
Jumlah pengungsi juga meningkat drastis hingga mencapai 115.000 orang yang kini tersebar di berbagai titik pengungsian.**
Redaktur: Gusti Rangga
Sumber: Suara























































