ACEH, RMNEWS.ID- Kondisi warga terdampak banjir di Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, semakin memprihatinkan. Usai pemukiman mereka terendam air bah, kini timbul lagi persoalan lain.
Ratusan warga korban terdampak banjir itu tersebar di Kecamatan Matangkuli, Pirak Timu, Tanah Luas, dan Kecamatan Lhok Sukon. Mereka kini mengalami krisis stok kebutuhan pokok.
Pasalnya aktivitas roda perekonomian terhenti. Ratusan lahan sawah baru sepekan ditanami rusak diterjang banjir.
Kondisi itu diperparah setelah minimnyan bantuan pemerintah dan pihak terkait lainnya.
Untuk bertahan hidup, mereka hanya mengandalkan beras dan bahan pokok yang masih tersisa di rumah sebelum banjir. Kini berbagai stok bahan makanan atau kebutuhan pokok lainnya sudah menipis dan terancam habis.
Zulfadli, tokoh muda Kecamatan Matangkuli, Rabu, 9 Oktober 2024 mengatakan, sejak kawasan setempat dilanda banjir pada Kamis pekan lalu, setiap kampung (desa) baru menerima satu sak beras ukuran 50 kg, satu kotak minyak goreng kemasan, dan beberapa kotak popok bayi. Itu pun baru pada Selasa, 8 Oktober, disalurkan ke desa-desa lokasi banjir.
“Hanya beras satu sak, minyak goreng kemasan satu kotak, dan popok yang diterima satu desa. Yang lain tidak ada. Kini beras bantuan itu pun sudah habis untuk dapur umum” ujar Zulfadli, dikutip dari Liputan6, Kamis 10 Oktober 2024.
Zulfadli mengungkapkan, dirinya bersama ratusan korban banjir di Kecamatan Matangkuli, Tanah Luas, Pirak Timu dan Kecamatan Lhok Sukon, sangat kecewa terhadap pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Pihak di berbagai tingkatan hanya seperti sibuk mengurus pemilihan kepala daerah.
Sehingga musibah banjir yang sangat terkait dengan keselamatan jiwa manusia terkesan terabaikan begitu saja. Itu terlihat dari minimnya respons dan tindakan nyata dari para pimpinan pemerintah.
Catatan Media Indonesia, sekitar 25 desa di Kecamatan Matangkuli, Tanah Luas, Pirak Timu dan Lhok Sukon Terendam Banjir.
Adapun perkampungan warga yang paling parah hingga terisolasi atau terkurung ditengah banjir itu tersebar di Kecamatan Matangkuli.
Antara lain adalah Desa Tanjung Haji Muda, Lawang, Alur Thoe, Meunje, Pante, Alue Entok dan Desa Tumpok Barat.
Untuk akses keluar atau menuju pusat pasar kecamatan, mereka harus menggunakan sampan kayu. Itu pun harus dinakhodai warga yang berpengalaman.
Karena jumlah kenderaan air itu sangat terbatas, maka harus bergantiaan menggunakannya.
Editor: Gusti Rangga
Sumber: Liputan6























































