BATAM, RMNEWS.ID – Terlepas dari kemunculan makanan modern dan eksperimental, orem-orem masih tetap menjadi favorit banyak orang di Malang, melestarikan nilai budaya dan sejarahnya dari generasi ke generasi.
Orem-orem adalah makanan sederhana namun lezat yang terbuat dari irisan tempe, ayam, dan lontong yang dimasak dengan kuah santan kental. Hidangan ini memiliki rasa yang kaya dan gurih dan biasanya disajikan dengan sambal pedas bagi mereka yang menyukai rasa pedas.
Makanan tradisional ini telah menjadi bagian dari identitas kuliner Malang, dan selama lebih dari lima dekade, resepnya tetap sama. Di warung Pak Kusnan, soto ini disajikan dengan cara yang sama persis seperti yang dibuat oleh ayahnya, menjaga tradisi tetap hidup.
Yang membuat hidangan lokal ini tetap bertahan di era modern ini adalah nilai nostalgianya. Meskipun banyak tren makanan baru seperti burger fusion, ramen, dan hidangan eksperimental lainnya telah mendapatkan popularitas, namun tetap menjadi pilihan yang populer.
Hal ini terutama karena memiliki nilai sentimental bagi banyak pelanggan, beberapa di antaranya bahkan telah menjadi pelanggan tetap kedai ini selama bertahun-tahun.
Banyak dari pelanggan ini dibawa ke kedai oleh orang tua mereka ketika mereka masih kecil, dan sekarang, mereka membawa anak-anak mereka sendiri untuk menikmati hidangan yang sama. Tradisi memperkenalkan orem-orem kepada generasi berikutnya telah memainkan peran penting dalam menjaga hidangan ini tetap relevan dan dicintai oleh masyarakat Malang.
Melansir dari Times Indonesia, sejak awal kemunculannya yang masih sederhana pada tahun 1967, orem-orem perlahan-lahan menjadi makanan favorit di Malang. Apa yang dimulai sebagai warung makan kecil yang melayani pelanggan lokal telah berkembang menjadi tujuan terkenal bagi siapa saja yang ingin merasakan masakan khas Malang.
Hidangan ini tidak hanya menarik perhatian penduduk lokal tetapi juga pengunjung yang ingin mencoba cita rasa kota ini. Saat ini, orem-orem tetap menjadi salah satu simbol utama budaya makanan Malang yang kaya.
Terletak di Pasar Comboran, warung ini mungkin terlihat sederhana, namun memiliki daya tarik tersendiri. Dengan meja kayu dan kursi plastik, warung ini memancarkan suasana yang sederhana dan ramah.
Aroma santan dan rempah-rempah yang kuat memenuhi udara, menarik para pelanggan untuk datang. Meskipun dekorasinya sederhana, namun bintang utama warung ini adalah sajiannya, yang terus menarik hati para pengunjung.
Pak Kusnan, yang kini sudah lanjut usia, adalah generasi kedua yang menjalankan bisnis orem-orem. Ayahnya memulai usaha ini lebih dari 50 tahun yang lalu, dan ia bangga bisa meneruskan tradisi keluarga.
Bagi Pak Kusnan, orem-orem lebih dari sekadar hidangan; orem-orem adalah bagian dari warisan keluarganya dan bagian penting dari sejarah kuliner Malang. Ia menyajikan setiap piring dengan penuh perhatian dan dedikasi, selalu senang melihat para pelanggan setianya kembali dari tahun ke tahun.
Banyak dari mereka, katanya, telah makan di warungnya sejak mereka masih kecil dan sekarang membawa anak-anak mereka sendiri untuk merasakan cita rasa yang sama. “Kalau dilihat, setiap hari ada saja yang bawa anak kecil untuk makan di sini. Jadi ini seperti warisan keluarga, bawa anak, bawa cucu,” tambahnya sambil tersenyum.
Di dunia di mana tren makanan datang dan pergi, orem-orem berdiri sebagai pengingat akan kekuatan tradisi dan keluarga. Cita rasa yang konsisten, hubungan dengan masa lalu, dan cinta yang diwariskan dari generasi ke generasi membuat hidangan ini lebih dari sekadar hidangan. Orem-orem merupakan simbol identitas budaya yang terus berkembang, membuktikan bahwa makanan yang paling sederhana pun bisa memiliki makna yang sangat dalam.
Editor: Andika
Sumber: Times Indonesia
























































