JAKARTA, RMNEWS.ID- Kedutaan Besar Virtual Amerika Serikat di Iran mengeluarkan peringatan keamanan serius kepada seluruh warga negaranya agar segera meninggalkan wilayah Iran.
Imbauan itu disampaikan pada Senin (12/1/2026), menyusul meningkatnya ketegangan politik dan keamanan akibat demonstrasi besar yang terus berlangsung di negara tersebut.
Dalam pernyataannya, kedubes menegaskan bahwa situasi di Iran dinilai semakin berisiko, terlebih dengan adanya potensi eskalasi konflik antara Washington dan Teheran.
Warga AS yang belum dapat keluar dari Iran diminta menyiapkan langkah-langkah darurat, termasuk mencari tempat perlindungan aman serta memastikan ketersediaan logistik dasar.
“Kami mengimbau warga AS untuk mengantisipasi gangguan internet jangka panjang, menyiapkan alternatif komunikasi, serta mempertimbangkan jalur evakuasi darat menuju Armenia atau Turki jika memungkinkan dan aman,” demikian pernyataan kedubes, seperti dilansir CNN.
Selain itu, warga AS juga diminta tidak bergantung pada bantuan pemerintah AS untuk proses evakuasi.
Kedubes menekankan agar setiap individu menyusun rencana keluar secara mandiri dan menjauhi seluruh bentuk aksi unjuk rasa yang tengah berlangsung di berbagai kota Iran.
Sebelumnya, Presiden Donald Trump melontarkan peringatan keras kepada Iran.
Ia mengancam akan mengambil langkah militer jika jumlah korban jiwa dalam demonstrasi terus bertambah.
Sejumlah organisasi hak asasi manusia internasional melaporkan ratusan orang tewas selama gelombang protes yang telah berlangsung sekitar dua pekan terakhir.
Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui juru bicaranya, Stephane Dujarric, menyatakan keprihatinan mendalam atas jatuhnya korban sipil.
Meski demikian, PBB mengakui belum memiliki data resmi yang dapat diverifikasi terkait jumlah korban tewas.
“Kami menerima berbagai laporan dan tetap berkomunikasi dengan mitra kami.
Angka pasti belum bisa dipastikan, tetapi jelas ada warga sipil yang kehilangan nyawa,” ujar Dujarric.
Sementara itu, sumber dari aparat keamanan Iran mengklaim jumlah korban tewas mencapai lebih dari 500 orang, termasuk anggota kepolisian dan personel Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Gelombang demonstrasi di Iran pecah sejak 28 Desember 2025, dipicu krisis ekonomi akibat melemahnya nilai tukar rial yang mendorong lonjakan harga kebutuhan pokok.
Tekanan publik semakin besar setelah Gubernur Bank Sentral Iran, Mohammad Reza Farzin, mengundurkan diri.
Situasi kian memanas sejak 8 Januari 2026, usai seruan dari Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang digulingkan pada 1979, yang diikuti pemblokiran akses internet oleh pemerintah.**
Redaktur: Gusti Rangga
Sumber: CNN























































