JAKARTA, RMNEWS.ID-Indonesia dan Singapura memperkuat hubungan kerja sama bilateral jelang 60 tahun, dengan fokus pada ekonomi digital, energi hijau, dan kolaborasi regional.
Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan usai bertemu Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono dalam kunjungan tiga hari ke Jakarta pekan lalu.
Sikutip dari pemberitaan dilansir CAN, Minggu (17/5/2026), Balakrishnan mengatakan sejumlah proyek bilateral seperti Nongsa Digital Park di Batam dan Kawasan Industri Kendal di Jawa Tengah terus berkembang dan menunjukkan prospek pertumbuhan yang kuat, terutama di sektor digital dan ekonomi hijau.
“Itu sebabnya kami mencari lebih banyak peluang untuk meningkatkan keterlibatan dengan berbagai provinsi di Indonesia,” ujarnya dalam konferensi pers bersama.
Selain kerja sama bilateral, kedua negara juga membuka peluang kolaborasi lebih luas bersama Malaysia, termasuk melalui penguatan kembali kemitraan Singapura-Johor-Kepulauan Riau (SIJORI).
“Kemitraan ini berpotensi memberikan manfaat besar bagi ketiga negara,” kata Balakrishnan, seraya menambahkan pentingnya investasi di sektor konektivitas transportasi dan proyek digital, serta realisasi ASEAN Power Grid.
Sugiono menilai hubungan Indonesia dan Singapura selama enam dekade terakhir telah terbangun kuat dengan fondasi kepercayaan strategis dan kepentingan bersama.
“Kami juga membahas persiapan Leaders’ Retreat mendatang serta meninjau kemajuan konkret di berbagai sektor seperti energi, aktivitas lintas batas, perdagangan, dan investasi,” katanya.
Ia juga menyinggung rencana pengembangan proyek listrik berskala besar, terutama dari sumber energi berkelanjutan.
Balakrishnan menambahkan Indonesia memiliki potensi energi besar, termasuk tenaga surya, panas bumi, dan hidro, yang dapat melengkapi peran Singapura sebagai pusat pembiayaan infrastruktur dan teknologi di kawasan.
Menurutnya, Singapura merupakan investor asing terbesar di Indonesia, sementara kedua negara juga termasuk mitra dagang utama satu sama lain.
Hubungan bilateral kedua negara disebut berada dalam kondisi “sangat baik”, dengan kerja sama yang terjalin baik dalam situasi normal maupun saat krisis, termasuk selama pandemi COVID-19 dan konflik di Timur Tengah.
Balakrishnan juga menyoroti implementasi perjanjian Expanded Framework Agreements yang mulai berlaku sejak Maret 2024, mencakup kerja sama di bidang pertahanan, pengelolaan wilayah udara, dan penegakan hukum.***
(rm/can).
























































