BANDUNG, RMNEWS.ID- Salah satu masalah geoarkeologi di sekitar tahun 2014 adalah situs Gunung Padang di Cianjur. Kontrovesi Gunung Padang menjadi bahan perdebatan di antara dua kelompok ahli, terutama yang berkaitan dengan adanya kekar kolom dari batuan andesit yang berserakan di sekitar situs. Salah satu dari kelompok ini berpendapat bahwa serakan kekar kolom itu adalah alami, tidak di karenakan campur tangan manusia, sedangkan kelompok yang lain beranggapan sebaliknya.
Awal mula perdebatan dimulai dari Turangga Seta sebuah yayasan yang bergerak di bidang pelestarian budaya yang ada di Nusantara (Indonesia). Mereka menganggap bahwa Nusantara adalah awal peradaban dunia, karena suku-suku bangsa di Indonesia merupakan orang-orang (sakti) yang mampu mendirikan candi Prambanan, candi Borobudur, atau mendirikan piramid-piramid di berbagai penjuru negeri termasuk piramid Gunung Padang.
Gunung Padang termasuk salah satu peninggalan budaya megalitik yang berupa bangunan berundak. Situs ini ditemukan tahun 1914 oleh N.J. Krom tetapi penelitian yang intensif belum dilakukan pada saat itu sehingga situs kembali tertutup oleh tumbuh-tumbuhan. Penemuan kembali situs Gunung Padang terjadi pada tahun 1979 oleh tiga orang penduduk lokal: Endi, Soma dan Abidin yang kemudian mereka melaporkan temuan ini ke Kepala Seksi Kebudayaan Kabupaten Cianjur.
Mahasiswa Geologi ITB Muhammad Zaky Abdul Alim melakukan pemetaan di wilayah Gunung Padang Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, dengan bimbingan Dr. Andri Subandrio pada tahun 2014. Dari aspek fisiografi regional, Gunung Padang terletak pada Zona Pegunungan Selatan (Bemmelen, 1949). Situs Gunung Padang berada di dalam Satuan Breksi Piroklasik (Siab) yang posisinya secara stratigrafi berada di atas Satuan Lava Andesit A (Siaa). Satuan Breksi Piroklastik (Siab) dan Satuan Lava Andesit A (Siaa) keduanya berumur Pliosen Akhir (waktu Pliosen diperkirakan berlangsung sekitar 800 ribu tahun). Situs Gunung Padang sendiri merupakan bagian dari Satuan Lava Andesit B yang juga berumur Pliosen Akhir.
Penamaan Satuan Lava Andesit B didapatkan dari hasil pengamatan singkapan dan pengambilan serta pengolahan data geolistrik. Dari hasil pengamatan penampang geolistrik tersebut maka di interpretasikan bahwa bongkahan-bongkahan kekar kolom yang terdapat pada permukaan Situs Gunung Padang berasal dari lava yang berada pada kedalaman sekitar 10 meter di bawah permukaan Situs Gunung Padang.

Dari hasil pengamatan permukaan kekar kolom dari Satuan Lava Andesit B ini di jumpai banyak lubang-lubang. Hal ini menjadi pertanyaan bagi saya apakah lubang-lubang ini bersifat alami atau buatan manusia? Jika bukan alami tentunya manusia memerlukan perkakas logam untuk membuatnya pada batuan andesit ini. Jika benar, maka saya cenderung memasukkan situs Gunung Padang sebagai situs dari zaman Paleometalik yang berkisar antara 500 Sebelum Masehi hingga 1000 Masehi yang sezaman dengan budaya Buni Pottery Complex (BPC) di Karawang.

Sejarah budaya manusia umumnya digambarkan dalam bentuk kemajuan teknologi, suatu perkembangan kronologis dari Zaman Neolitik hingga ke Zaman Logam. Kebudayaan manusia untuk membangun sejumlah arsitektur monumental atau monumen-monumen batu berukuran besar yang kita kenal sebagai “Megalitik” umumnya berlangsung pada perioda Neolitik dan perioda Logam, tetapi juga dapat ditemukan pada masa yang lebih tua yaitu perioda Mesolitik.
Istilah Megalitik berasal dari bahasa Yunani megas yang berarti “besar” dan lithos yang berarti “batu”. Arsitektur monumental megalitik ini merupakan pusat dari banyak aspek organisasi sosial manusia dan perkembangan kompleksitas sosial, namun penyebab asal usulnya masih kurang dipahami.
Contoh dari arsitektur monumental ini adalah Göbekli Tepe di Turki, Carahunge di Armenia, Stonehenge di Inggris, dan piramida Giza di Mesir, yang dibangun masing-masing sekitar 11 ribu tahun yang lalu, 7.5-6.5 ribu tahun yang lalu, 5.9 ribu tahun yang lalu, dan 4.6 ribu tahun yang lalu. Göbekli Tepe diyakini sebagai monumen kuil suci tertua di dunia yang ditemukan tahun 1995 oleh seorang penggembala Kurdi yang melihat adanya sejumlah batu-batu berukuran besar yang telah dikerjakan. Letaknya di wilayah Anatolia, Turki.
Editor: Gusti Rangga
Sumber: Bandung Bergerak























































