BANDA ACEH, RMNEWS.ID- Dengan kondisi geografisnya yang unik, Aceh memiliki potensi tinggi untuk mengalami kekeringan. Fenomena ini kian memprihatinkan di tengah perubahan iklim global yang memperparah kondisi kekeringan.
Untuk memahami dan mencari solusi terkait permasalahan ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Besar dan Dosen FKP USK/Peneliti Sains Atmosfer Pusat Riset STEM USK hadir sebagai narasumber dalam sebuah dialog interaktif bersama RRI Pro1 Banda Aceh bertema Mitigasi Bencana Kekeringan di Aceh, Kamis (4/7/2024).
Kepala BPBD Aceh Besar Ridwan Jamil memaparkan upaya-upaya yang dilakukan pemerintah daerah dalam menangani kekeringan, seperti distribusi air bersih, sosialisasi hemat air, dan pembangunan embung.
“BPBD Aceh Besar telah melakukan berbagai upaya, seperti distribusi air bersih, sosialisasi hemat air, pembangunan embung, dan pendampingan masyarakat dalam pemanfaatan air hujan. Di sisi lain, penelitian dan pengembangan teknologi sains atmosfer juga menjadi kunci untuk meningkatkan prediksi dan monitoring kekeringan,” jelasnya, dikutip dari RRI, Kamis (4/7/2024).
Ditempat lain, Dosen FKP USK/Peneliti Sains Atmosfer Pusat Riset STEM USK Dr. YopiIlhamsyab menjelaskan fenomena kekeringan dari sudut pandang ilmiah, termasuk faktor meteorologi, klimatologi, dan prediksi pola kekeringan di masa depan.
“Faktor-faktor penyebab kekeringan di Aceh juga faktor meteorologi dan klimatologi seperti El Niño, pola curah hujan, dan variabilitas iklim berperan penting dalam memicu kekeringan. Selain itu, faktor antropogenik seperti deforestasi dan alih fungsi lahan juga memperparah kondisi ini,” ujar Yopi.
Koordinasi antar instansi dan edukasi masyarakat menjadi kunci dalam meningkatkan efektivitas mitigasi kekeringan.
Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi juga dapat membantu dalam menyebarkan informasi dan meningkatkan partisipasi masyarakat, halini penting dalam upaya mitigasi kekeringan.
Dengan menerapkan gaya hidup hemat air dan menjaga kelestarian lingkungan, masyarakat dapat membantu mengurangi risiko kekeringan di masa depan.
Diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan partisipasi masyarakat dalam upaya mitigasi bencana kekeringan di Aceh.
Diperlukan kerjasama yang kuat dari berbagai pihak, baik pemerintah, akademisi, LSM, maupun masyarakat, untuk membangun ketahanan terhadap kekeringan dan menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan bagi Aceh.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kekeringan merupakan isu kompleks yang membutuhkan solusi komprehensif. Dengan meningkatkan pengetahuan dan kerjasama, kita semua dapat berperan dalam membangun Aceh yang lebih tahan terhadap kekeringan.
Editor: Gusti Rangga
Sumber: RRI























































