BANDA ACEH, RMNEWS.ID- – Ratusan pelajar dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Banda Aceh beserta dewan guru mengikuti edukasi mitigasi atau pengurangan terhadap risiko bencana.
Kegiatan tersebut digelar dalam bentuk simulasi gempa dan tsunami yang dipusatkan di halaman SMP Negeri 1 Banda Aceh di Banda Aceh, Rabu.
Simulasi berawal saat pelajar di sekolah itu sedang mengikuti belajar mengajar. Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan gempa berskala besar disertai bunyi sirene peringatan dini tsunami.
Beberapa saat kemudian, para siswa keluar kelas berkumpul di halaman sekolah. Mereka juga mengumandangkan sholawat badar sebagai doa agar bencana segera berakhir.
Selanjutnya, tim palang merah sekolah berkumpul di titik tertentu dan kemudian menyusuri setiap kelas.
Mereka mengevakuasi rekan-rekan mereka yang mengalami akibat bencana alam tersebut.
Sejumlah guru juga memberikan pengarahan kepada anak didik mereka seraya menunggu informasi dari lembaga terkait dengan kebencanaan.
Ketika menerima informasi ada potensi tsunami, ratusan pelajar tersebut diarahkan menuju ke tempat aman. Sementara, korban luka-luka dievakuasi menggunakan ambulans.
Kepala SMP Negeri 1 Banda Aceh Rima Afriani mengatakan, simulasi gempa dan tsunami ini diberikan kepada anak didik untuk tujuan edukasi dalam mitigasi, sehingga dampak negatif dari bencana bisa diminimalisasi.
“Kegiatan ini diikuti 900-an pelajar SMP Negeri 1 Banda Aceh. Simulasi ini merupakan edukasi kepada anak didik agar mereka memahami bagaimana menghadapi gempa dan tsunami. Apalagi sekolah kami berada di zona rawan tsunami,” katanya, seperti dilansir laman resmi Antara Rabu 7 Agustus 2024.
Rima menjelaskan, simulasi gempa dan tsunami ini merupakan kegiatan rutin yang dilakukan setiap tahunnya sejak 2010. Simulasi ini sebagai bekal bagi mereka jika suatu saat menghadapi kejadian serupa.
Ia menyebut, simulasi gempa dan tsunami tersebut dilakukan secara mandiri oleh pihak sekolah.
Sebelum simulasi digelar, semua peserta didik diberikan pembekalan terkait gempa dan tsunami, termasuk menonton kejadian nyata bencana 26 Desember 2004.
“Dengan bekal ini, paling tidak mereka bisa mengurangi dampak dari risiko sebuah bencana. Kami juga mengharapkan pembelajaran simulasi ini juga ditular anak didik kepada keluarga dan lingkungan tempat tinggalnya,” pungkasnya.
Editor: Gusti Rangga
Sumber: Antara























































