CHICAGO, RMNEWS.ID – Seorang pejabat di Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) menyebut jumlah kejahatan atas kebencian terhadap warga Muslim dan Palestina semakin meningkat di kota Chicago, Amerika Serikat (AS). Hal ini menimbulkan kekhawatiran masyarakat.
Maggie Slavin, manajer operasi cabang CAIR di kota Midwest, mengatakan bahwa telah terjadi peningkatan 196 persen dalam kejahatan kebencian terhadap Muslim dan Palestina di kota itu sejak Oktober lalu, sebagaimana dikutip dari Anadolu, Sabtu (14/9/2024).
Slavin mengatakan insiden tersebut terjadi di tempat kerja, sekolah, dan ruang publik, di mana individu menghadapi konsekuensi karena mengekspresikan solidaritas mereka dengan Gaza dan Palestina.
Dia menyoroti bahwa komunitas Muslim di Amerika menghadapi penyensoran yang ketat.
Di tempat kerja, orang-orang dihukum karena menyatakan dukungan untuk Gaza, dan di kampus, mahasiswa menghadapi sanksi administratif karena mendukung hak-hak Palestina, imbuh dia.
Slavin mengatakan tanggapan otoritas terhadap peningkatan kejahatan kebencian “tidak pasti.”
Meskipun beberapa departemen kepolisian bersikap kooperatif, sebut dia, namun departemen lain memerlukan advokasi yang terus-menerus.
Terkait serangan baru-baru ini terhadap sebuah kafe milik warga Palestina di kawasan pemukiman Uptown, dia mengatakan Departemen Kepolisian Chicago awalnya menolak mengklasifikasikan insiden tersebut sebagai kejahatan kebencian.
“Kita harus benar-benar gigih sampai departemen kepolisian itu – sampai pihak berwenang – setuju dengan kita bahwa itu adalah kejahatan kebencian,” ujar dia.
Kafe Nabala, sebuah kafe milik Palestina di Uptown yang memajang bendera Palestina, diserang sejumlah orang tak dikenal minggu lalu.
Ancaman antisemitisme yang nyata bagi semua minoritas
Meningkatnya sentimen anti-Muslim juga digaungkan oleh kebangkitan pengawasan federal. Slavin membandingkan suasana saat ini dengan era setelah serangan teroris September 2001 di AS.
“Kami telah menerima banyak panggilan tentang interaksi yang tidak pantas dari FBI atau dari otoritas federal. Ini seperti perburuan terhadap penyihir,” ujarnya.
Ketika FBI mendatangi rumah-rumah warga, mereka ketakutan dan menelepon CAIR untuk menanyakan apa yang harus dilakukan, kata Slavin.
“Kami belum pernah melihat hal seperti itu,” sebut dia. “Itu adalah hal baru yang sangat menakutkan yang sedang terjadi.” sambungnya.
Dia mengungkap rasa frustrasinya terhadap penyalahgunaan istilah “antisemitisme” untuk membungkam kritik terhadap kebijakan Israel.
“Antisemitisme yang sesungguhnya, penargetan terhadap agama Yahudi, merupakan ancaman bagi kami (umat Muslim), ancaman bagi semua kaum minoritas,” ungkap dia.
“Namun, ketika semuanya diungkapkan sebagai, ‘Oh, ini antisemit,’ ‘Oh, Anda bersikap antisemit,’ hal itu hanya akan mengecilkan maknanya menjadi hal yang tidak serius,” tegas dia.
Apa yang mereka lakukan adalah “kritik yang sah terhadap kebijakan Israel” dan apa yang telah dilakukan Israel di Gaza dan Tepi Barat, tekan dia.
Pembunuhan aktivis Turkiye-Amerika adalah ‘serangan terarah’
Terkait pembunuhan seorang aktivis Turkiye-Amerika oleh pasukan Israel di Tepi Barat, Slavin mengatakan bahwa itu bukan kecelakaan.
“Aysenur Ezgi Eygi adalah pendukung vokal hak-hak Palestina, katanya, seraya menambahkan: “Kami pikir itu adalah serangan yang ditargetkan.”
“Ini menunjukkan bahwa meskipun Anda orang Amerika, jika Anda seorang Muslim, IDF (tentara Israel) tidak peduli dan akan menghapus kemanusiaan Anda hingga benar-benar membunuh Anda.”
Slavin mengatakan tentara Israel tidak melihat apa pun selain ketangguhan dari warga Palestina “yang mengalami genosida brutal ini.”
Ia mengatakan bahwa melakukan hal yang kurang dari sekadar menjadi tangguh akan menjadi sebuah “aib” bagi Palestina.
Editor: Andika
Sumber: Anadolu























































