BATAM, RMNEWS.ID – Persoalan air bersih kembali menjadi sorotan masyarakat di Batam, Kepulauan Riau (Kepri). Sejumlah warga perumahan mengeluhkan kondisi air yang kotor dan berbau lumpur dari Air Batam Hilir.
Bahkan kondisi air bersih viral di sejumlah postingan warga memperlihatkan masing-masing kondisi warna air, ada yang hijau dan ada juga yang kuning karat.
Sala satu warga Batu Aji, Milena melaporkan kondisi air rumahnya yang keruh dan kotor berwarna hijau. Ia mengeluhkan kondisi air yang keruh, berbau lumpur, dan berwarna hijau menyerupai cincau.
Ia mengungkapkan kekesalannya atas buruknya kualitas air bersih yang disuplai oleh Air Batam Hilir.
“Kami sudah mencoba menampung air menggunakan penyaring, tapi hasilnya tetap sama.” ucap Milena dengan nada kesal, Sabtu (28/12/2024), dilansir dari Tribun.
“Airnya tetap hijau dan berbau seperti comberan. Kami warga Batu Aji hanya ingin pasokan air bersih yang layak,” sambungnya.
Ia menambahkan, masalah ini sudah berlangsung selama dua hari terakhir.
“Setiap pagi kami menampung air, tapi baunya menyengat seperti lumpur.” ungkapnya.
“Kami pakai saringan, tapi airnya tetap hijau. Bahkan kain penyaring berubah warna menjadi hijau bercampur lumpur,” tambahnya.
Keluhan serupa juga disampaikan warga lainnya di media sosial.
Banyak netizen mengecam pihak pengelola air bersih di Batam, yaitu Air Batam Hilir (ABH), karena dianggap lamban menangani persoalan tersebut.
“Air ini untuk kebutuhan hidup kami sehari-hari, seperti mandi, memasak, dan minum. Tapi kondisinya seperti ini? Jangan diam saja, ABH harus segera menyelesaikan masalah ini,” tulis salah seorang warga di media sosial.
Warga lainnya menambahkan, kondisi ini sangat menyulitkan, terutama bagi keluarga dengan anak kecil.
“Kami mau mandikan anak saja jadi susah. Airnya bau lumpur dan tidak layak pakai. Kami berharap ada solusi segera,” ujar seorang ibu rumah tangga.
Kondisi air bersih di Batam sudah lama menjadi perhatian. Selain sering mati tanpa pemberitahuan, warga kini dihadapkan dengan masalah kualitas air yang buruk.
Editor: Andika
Sumber: Tribun
























































