PADANG, RMNEWS.ID- Sebuah kompleks sekolah dasar di Kota Padang, Sumatera Barat, hancur total setelah banjir bandang besar menerjang kawasan Batang Kabuang, Kecamatan Koto Tangah, pada Kamis (27/11/2025) pagi.
SD Negeri 49 Batang Kabuang kini tidak lagi menyisakan bangunan apa pun—seluruh area berubah menjadi aliran sungai baru.
Banjir bandang datang tiba-tiba dan langsung menghantam bangunan sekolah, menyapu seluruh ruang kelas, kantor guru, halaman, hingga fasilitas belajar.
Material kayu gelondongan dan lumpur pekat yang terbawa arus membuat bangunan luluh lantak dalam hitungan menit.
“Dalam hitungan menit saja sekolah itu ambruk dan hanyut. Tidak ada yang bisa diselamatkan, bahkan selembar kertas pun tidak tersisa,” ungkap Era, warga RT 6 RW 2 Kelurahan Batang Kabuang, dikutip dari Tribun.
Era menjelaskan, sebelumnya sungai berada sekitar 100 meter di belakang sekolah. Namun derasnya debit air membuat aliran sungai berubah arah dan langsung menabrak bangunan sekolah.
“Sekarang lokasi sekolah itu sudah menjadi sungai. Tidak ada lagi yang bisa dikenali, semua sudah hilang,” ujarnya, Rabu (10/12/2025).
Sekolah tersebut sebelumnya menampung sekitar 80 siswa. Kini seluruh murid kehilangan ruang belajar dan fasilitas pendidikan dasar.
Para guru terlihat terpukul berat, bahkan beberapa dilaporkan histeris saat melihat sekolah tempat mereka mengajar selama bertahun-tahun hilang seketika.
Kepala SD Negeri 49 Batang Kabuang, Erniwati, memastikan bahwa proses ujian siswa tetap berlangsung meski dalam kondisi darurat.
“Untuk mengikuti ujian, anak-anak terpaksa menumpang di sekolah terdekat setelah jam belajar sekolah itu selesai. Jaraknya hampir satu kilometer dari sekolah lama. Ini satu-satunya cara agar mereka tetap bisa mengikuti ujian,” jelasnya.
Erniwati juga menyebut kondisi psikologis siswa dan guru masih terguncang. Ia berharap pemerintah segera menyediakan bangunan sementara agar proses belajar tidak terus terganggu.
“Kami berharap pemerintah segera mencarikan solusi bangunan sementara,” katanya.
Saat ini warga bersama petugas terkait tengah membersihkan area sekitar sambil meninjau kemungkinan relokasi sekolah.
Karena lokasi lama telah berubah total menjadi aliran sungai, pembangunan ulang di titik tersebut tidak mungkin dilakukan.**
Redaktur: Gusti Rangga
Sumber: Tribun
























































