Upaya lima warga negara Nigeria untuk mengelabui petugas imigrasi berakhir sia-sia.
Kelompok yang diduga terlibat jaringan penipuan lintas negara itu justru tertangkap saat bersembunyi di dalam toren air sebuah apartemen di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (27/1/2026) malam.
Operasi pengawasan keimigrasian yang digelar petugas Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM RI mendadak menggegerkan penghuni apartemen.
Kelima pria berinisial CA, JCA, CFN, CCO, dan CO panik saat mengetahui keberadaan mereka terendus aparat.
Untuk menghindari pemeriksaan, mereka nekat memanjat ke area atap dan bersembunyi di balik tangki penampungan air.
Namun, siasat tersebut gagal. Petugas yang curiga dengan gerak-gerik para penghuni berhasil menemukan mereka dalam kondisi meringkuk dan kelelahan.
Tanpa perlawanan, kelimanya langsung diamankan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Hasil pendalaman sementara mengungkap, kelompok tersebut diduga menjalankan modus love scamming dengan menyasar korban dari berbagai negara, mulai dari Sri Lanka hingga Amerika Serikat.
Para pelaku memanfaatkan media sosial, terutama Facebook, untuk membangun hubungan emosional dengan korban sebelum melancarkan penipuan berkedok pengiriman hadiah dan paket internasional fiktif.
Tak hanya itu, sindikat ini juga diduga memanipulasi aplikasi jasa ekspedisi internasional guna meyakinkan korban agar mentransfer sejumlah uang dengan alasan biaya tambahan pengiriman.
“Petugas mengamankan sejumlah barang bukti berupa puluhan telepon genggam, laptop, kartu ATM, serta uang tunai yang diduga berasal dari hasil kejahatan,” kata Kepala Kantor Wilayah Kemenkumham DKI Jakarta, Pamuji Raharja, dikutip dari Merdeka.
Seluruh WNA tersebut kini ditahan untuk proses administrasi keimigrasian lebih lanjut.
Mereka terancam dideportasi serta dimasukkan dalam daftar penangkalan, sehingga tidak dapat kembali masuk ke wilayah Indonesia.
Aksi bersembunyi di toren air yang mereka lakukan justru menjadi penutup dari aktivitas penipuan yang selama ini dijalankan secara rapi dari balik layar dunia maya.**
Redaktur: Gusti Rangga
Sumber: Merdeka
























































