Sebuah tragedi yang merenggut nyawa seorang pelajar di Jalan Matraman Raya, Jakarta Timur, menyisakan duka mendalam dan sorotan tajam terhadap kondisi infrastruktur jalan. Peristiwa nahas ini terjadi pada Senin pagi, 9 Februari 2026, ketika seorang siswa berusia 17 tahun berinisial ASP, yang mengendarai sepeda motor, terlibat dalam kecelakaan tunggal.
Kronologi Kejadian yang Mengharukan
Menurut informasi yang dihimpun, korban ASP mengendarai sepeda motor bernomor polisi B 4677 SGL dari arah selatan menuju utara. Saat melintas di dekat Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Berlan, insiden tragis itu terjadi. Sepeda motor yang dikendarai ASP menghantam sebuah lubang di permukaan jalan yang dalam dan tidak terduga. Benturan keras dengan lubang tersebut menyebabkan korban kehilangan kendali atas kendaraannya.
Akibat hilangnya keseimbangan, sepeda motor oleng dan korban terpental dari kendaraannya. Tragisnya, korban dilaporkan tidak mengenakan helm pada saat kejadian, yang mengakibatkan luka serius pada bagian kepala dan wajahnya.
Warga sekitar yang menyaksikan kejadian tersebut segera memberikan pertolongan awal dan menghubungi pihak kepolisian, yaitu Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Metro Jakarta Timur. Ketika petugas tiba di lokasi kejadian, korban ASP dinyatakan telah meninggal dunia di Tempat Kejadian Perkara (TKP). Jenazah korban kemudian dibawa ke RS Bhayangkara Tingkat I Pusdokkes Polri Jakarta Timur untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut (visum et repertum).
Kesaksian Warga dan Kondisi Jalan yang Rawan
Ardi, seorang warga setempat yang juga menjadi saksi mata kejadian, menceritakan detik-detik sebelum dan sesudah kecelakaan terjadi. Ia mengaku melihat korban saat keluar dari gang menuju Jalan Matraman Raya yang saat itu terbilang sepi.
“Sepi, enggak ada orang sepi, saya keluar dari sana (gang) ke jalan raya sudah ngegeletak aja,” ujar Ardi. Ia menambahkan bahwa setelah korban tergeletak di jalan, ada dua pengendara lain yang sigap menghentikan laju kendaraan lain agar tidak menabrak korban.
Lebih lanjut, Ardi mengungkapkan bahwa kondisi jalan di area tersebut memang seringkali tidak rata dan terlihat seperti ditambal sulam. Kondisi jalan yang demikian, menurutnya, telah menjadi penyebab terjadinya banyak kecelakaan di wilayah tersebut.
“Sudah sering sih (kecelakaan), mungkin karena tembelan (jalan berlubang) ini ya, agak rawan,” kata Ardi, menggarisbawahi kerawanan lokasi tersebut akibat kerusakan jalan.
Duka Mendalam Keluarga dan Latar Belakang Korban
Kematian ASP meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. Diketahui, ASP merupakan warga Manggarai, Jakarta Selatan, dan bersekolah di SMKN 34 Senen, Jakarta Pusat.
Kabar duka dan kronologi kecelakaan tersebut pertama kali diterima oleh ibu korban dari tetangganya. Sang kakak, Aldo, menceritakan bahwa adiknya tersebut memiliki keinginan untuk belajar mandiri, sehingga ia kerap bepergian menggunakan sepeda motor sendiri.
“Ibu tahu dari tetangga, itu tetangga bilang kalau ada kecelakaan pakai jaket biru (almamaternya),” kata Aldo, merujuk pada seragam sekolah korban yang dikenali oleh tetangganya.
“Tiap hari naik motor sendiri. Sebelum ada motor memang saya yang anterin, katanya mau mandiri akhirnya dibeliin motor. Akhirnya (mengendarai) sendiri,” jelas Aldo mengenai keputusan adiknya untuk berkendara sendiri setelah dibelikan motor.
Respons Pemerintah dan Tindakan Penanganan
Berita mengenai meninggalnya pelajar akibat kecelakaan di jalan yang berlubang ini rupanya sampai ke telinga Wakil Gubernur DKI Jakarta saat itu, Rano Karno. Ia menyoroti masalah perbaikan jalan yang terhambat oleh kondisi cuaca.
“Untuk perbaikan semua, kita harus menunggu setelah musim kemarau. Kalau kita lihat dari BMKG, barangkali Maret ini masih hujan. Artinya, ini menjadi kendala yang kita hadapi,” ujar Rano Karno, menjelaskan tantangan dalam melakukan perbaikan infrastruktur di tengah musim hujan.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyatakan akan menanggung seluruh biaya pemakaman dan perawatan jenazah korban di rumah sakit. Hal ini disampaikan oleh Pramono Anung.
“Seluruh biaya rumah sakit akan ditanggung sepenuhnya oleh Pemprov DKI Jakarta. Kami juga telah menyiapkan pemakaman di TPU Menteng Pulo,” ujar Pramono Anung.
Lebih lanjut, Pramono Anung juga berjanji akan segera mengambil langkah untuk menutup akses ke jalan yang berlubang dan melakukan perbaikan.
“Saya sudah memerintahkan Dinas Bina Marga untuk menutup seluruh jalan yang berlubang, meskipun bersifat sementara,” kata Pramono. Ia menambahkan bahwa kondisi cuaca yang tidak menentu dan curah hujan yang masih tinggi menjadi alasan perlunya tindakan cepat.
“Curah hujan dalam beberapa waktu terakhir masih tidak menentu dan kadang cukup tinggi, sehingga langkah cepat harus dilakukan,” pungkasnya, menekankan urgensi penanganan masalah infrastruktur jalan demi mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang.
























































