JAKARTA, RMNEWS.ID-Indonesia bersiap mengerahkan sebanyak 5.000 hingga 8.000 personel TNI ke Gaza sebagai anggota pasukan perdamaian. Jika keberangkatan ini jadi dilaksanakan, Indonesia akan menjadi negara pertama yang bakal berkontribusi untuk Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) sesuai dengan rencana perdamaian Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Menurut laporan media-media Israel, tidak ada negara yang secara konkret menyiapkan tentara sebagai anggota ISF selain Indonesia. Seperti yang dilansir ABC.News Indonesia, Rabu (11/2/2026)
Kesiapan Indonesia dipaparkan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, para personel TNI AD sudah mulai berlatih.”Sudah mulai berlatih orang-orang yang kemungkinan [dikerahkan]. Kan kita nanti jadi perdamaian. Jadi berarti Zeni, kesehatan, yang seperti-seperti itu kami siapkan,” ujar Maruli di Kompleks Istana Kepresidenan pada Senin (9/2/2026).
Jenderal Maruli memperkirakan jumlah pasukan yang bisa diberangkatkan ke Gaza sebagai pasukan perdamaian mencapai satu brigade atau 5.000-8.000 prajurit.
“Ya, bisa satu brigade, 5.000–8.000 mungkin. Tapi masih bernego semua, belum pasti. Belum ada kepastian angka sampai sekarang,” kata Maruli.
Soal penugasan, waktu keberangkatan, dan kepastian lokasi penugasan, Maruli menyerahkan ke tingkat komando yang lebih tinggi.
Media publik Israel, KAN News, melaporkan persiapan untuk menampung tentara Indonesia di Gaza telah dimulai di bagian selatan Jalur Gaza, antara Kota Rafah dan Khan Younis.
KAN News menyebut belum ada tanggal pasti untuk kedatangan pasukan TNI, tetapi militer Indonesia diperkirakan bakal menjadi pasukan asing pertama yang mencapai Gaza.
KAN News juga melaporkan area yang ditunjuk “sudah siap,” tetapi persiapan bangunan dan perumahan di sana “akan memakan waktu beberapa minggu.”
ISF diperkirakan tidak akan berinteraksi langsung dengan Hamas dan melucuti senjata anggota organisasi tersebut secara proaktif. Sebaliknya, ISF diharapkan untuk mengawasi garis gencatan senjata saat ini dan, jika perlu, menangani masalah-masalah lain yang berkaitan dengan perbatasan.***
Redaksi : Mawardi
Sumber : dikutip dari ABC News Indonesia.
























































