LINGGA, RMNEWS.ID-Jaringan Sekolah Digital Indonesia (JSDI) wilayah Kepulauan Riau menggandeng Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lingga menggelar bincang santai menjelang waktu berbuka puasa bertajuk “Kitab Adabul Fata: Warisan Intelektual Melayu untuk Membangun Generasi Beradab dan Nasionalis”, Jumat, 6 Maret 2026. Kegiatan ini disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube JSDI Kepri.
Diskusi yang dipandu pengurus JSDI Kepri ini menghadirkan Sahri Ali sebagai host serta narasumber Ketua MUI Kabupaten Lingga, Badi’ul Hasani. Kegiatan tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus forum refleksi bagi para pendidik, orang tua, dan masyarakat dalam menyambut waktu berbuka dengan kajian yang relevan dengan tantangan zaman digital.
Ketua JSDI Kepulauan Riau, Dewi Kinasih, mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk menghubungkan tradisi intelektual Melayu dengan perkembangan teknologi yang kini membentuk kehidupan generasi muda.
Menurut dia, digitalisasi tidak hanya menuntut kemampuan menguasai teknologi, tetapi juga membutuhkan fondasi etika yang kuat. “Melalui kegiatan ini kita mencoba membedah khazanah klasik Melayu untuk menemukan pedoman etika teknologi. Generasi hari ini tidak cukup hanya cakap secara digital, tetapi juga harus memiliki adab dan karakter nasionalis,” ujarnya.
Ia menambahkan, nilai-nilai adab tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah. Guru, orang tua, dan lingkungan sosial memiliki peran bersama dalam membentuk karakter generasi yang mampu memanfaatkan teknologi secara bijak.
Dalam pemaparannya, Badi’ul Hasani menjelaskan bahwa Adabul Fata merupakan salah satu karya penting dalam tradisi intelektual Melayu. Kitab tersebut ditulis oleh Al Fadhil Al Adib Ali Afandi Fikri Mishri, kemudian diterjemahkan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Melayu oleh Almarhum Raja Haji Muhammad Sa’id ibn Raja Haji Muhammad Tahir dari Riau.
Menurut Badi’ul, kitab tersebut berisi panduan adab dan sopan santun bagi generasi muda, terutama tentang bagaimana menjaga hubungan yang baik dengan Allah, agama, guru, orang tua, serta masyarakat.
“Kitab ini mengajarkan bagaimana seorang pemuda membangun kepribadian yang mulia. Nilai-nilai itu sangat relevan untuk generasi sekarang yang hidup di tengah arus teknologi dan informasi yang begitu cepat,” kata dia.
Ia menilai warisan intelektual Melayu seperti Adabul Fata dapat menjadi rujukan penting dalam membangun etika digital. Di tengah kemajuan teknologi, generasi muda tidak hanya dituntut cerdas dan terampil, tetapi juga beradab dalam berinteraksi, baik di dunia nyata maupun di ruang digital.
Badi’ul berharap generasi saat ini dapat meneladani semangat para ulama dan intelektual terdahulu yang tekun belajar serta mencintai ilmu pengetahuan.
“Para pendahulu kita meninggalkan karya-karya yang bukan hanya berisi ilmu, tetapi juga adab. Jika generasi hari ini mampu menggabungkan kecakapan teknologi dengan nilai-nilai adab tersebut, maka akan lahir generasi yang kuat secara moral sekaligus berdaya saing,” ujarnya.
Diskusi menjelang iftar ini menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi tidak harus memutus hubungan dengan akar budaya dan tradisi intelektual Melayu. Sebaliknya, keduanya dapat saling menguatkan dalam membentuk generasi yang berilmu, beradab, dan memiliki semangat kebangsaan.*
Laporan : Handoyo wartawan rmnews.id Lingga.
























































