LINGGA, RMNEWS.ID-Lingga selalu punya cerita untuk ditulis. Sejarahnya panjang, adatnya hidup, kampung-kampungnya menyimpan jejak, sementara banyak kisah tentang tokoh dan tradisi masih bertahan dari tutur ke tutur.
Hal itu pula yang mendorong Muh Hamka Syaifudin, yang akrab disapa Hamka Kedang, menulis buku yang berjudul Destinasi Cinta: Bunda Tanah Melayu. Buku tersebut merekam Lingga dari sisi budaya, adat istiadat, sejarah, sekaligus pengalaman menikmati Daik sebagai ruang yang kaya cerita.
“Daik Lingga memang tidak pernah habis digali dan dinikmati,” kata Hamka saat menyerahkan buku itu kepada Abdullah, penulis Kampung Bermadah, Tamadun Berjiwa sekaligus Tenaga Ahli Bupati Lingga, di ruang kerjanya, Jumat (28/8/2026).
Bagi Hamka, menulis tentang Lingga bukan sekedar memperkenalkan daerah. Ada persoalan yang lebih mendasar ialah bagaimana ingatan sebuah kampung tetap hidup ketika orang-orang yang menyimpan ceria itu mulai pergi.
“Setiap kampung menyimpan cerita. Ada sejarah yang belum ditulis, tokoh yang mulai dilupakan, tradisi yang perlahan hilang, dan kisah orang-orang sederhana yang sesungguhnya begitu berharga,” ujarnya.
Ia mengajak masyarakat, terutama generasi muda, mulai mencatat kembali apa yang ada di sekeliling mereka. Tidak harus menunggu menjadi sejarawan atau penulis profesional. Cerita tentang kampung bisa dimulai dari apa yang diketahui orang tua, nama sebuah tempat, tradisi yang masih dijalankan, atau kisah seorang tokoh yang selama ini hanya dikenal secara lisan.
“Menulis tentang kampung adalah bentuk paling sederhana dari kepedulian. Kita mungkin tidak mampu membangun gedung, membuat jalan, atau mengubah kampung dalam sekejap. Tetapi kita bisa menyelamatkan ingatannya melalui kata,” katanya.
Pesan itu menjadi semakin menarik karena Hamka sendiri bukan lahir di Lingga. Ia berasal dari Kedang, Nusa Tenggara Timur. Namun, setelah datang ke Lingga, ia justru memilih mendekati dan menuliskan kebudayaan Melayu yang ia temui.
Abdullah menilai pilihan tersebut menunjukkan bahwa kecintaan terhadap sebuah kebudayaan tidak selalu berangkat dari tempat kelahiran.
“Hamka adalah putra Flores yang datang ke Lingga, jauh dari kampung halamannya di Kedang, Nusa Tenggara Timur. Namun ia berani mengangkat budaya dan adat Melayu dengan penuh cinta. Ia belajar, merenung, dan menuliskan semua yang ia temui dengan hati yang tulus,” kata Abdullah.
Menurut dia, keberanian Hamka patut dihargai. Di tengah kebudayaan lokal yang menghadapi perubahan zaman, orang-orang yang mau mencatat menjadi penting karena mereka membantu menjaga agar pengetahuan tentang masa lalu tidak berhenti sebagai ingatan pribadi.
Abdullah menyampaikan penghargaan atas sumbangsih Hamka dalam mencatat dan membukukan budaya, sejarah serta kearifan lokal Bunda Tanah Melayu.
Ia berharap buku tersebut ikut mendorong lebih banyak anak muda, terutama para “budak kampung”, untuk mengenali kembali akar budayanya.
“Semoga Allah memberkati setiap usaha mulia ini, menjadikannya amal jariah yang terus mengalir pahalanya, dan menginspirasi lebih banyak orang khususnya ‘budak kampung’ untuk mencintai serta menjaga warisan peradaban Melayu,” ujarnya.
Bagi Hamka, kampung bukan hanya soal tempat seseorang dilahirkan atau dibesarkan. Di sanalah identitas terbentuk, cerita diwariskan, dan sejarah sehari-hari berlangsung.
Sebab kampung yang tidak dicatat, perlahan hanya akan menjadi ingatan. Dan ingatan yang tidak diwariskan, pada akhirnya bisa hilang bersama orang yang pernah menyimpannya.*
Laporan : Handoyo wartawan rmnews.id Laingga.
























































