JAKARTA, RMNEWS.ID- Diplomat Indonesia dan sejumlah perwakilan negara asing lainnya dalam rombongan dikabarkan selamat dari serangan bom yang terjadi di kawasan Malam Jabba, Provinsi Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan.
Menurut Direktur Asia Selatan dan Tengah Kementerian Luar Negeri RI, Y Jatmiko Heru Prasetyo, diplomat Indonesia memang berada dalam rombongan yang diserang itu. ”Memenuhi undangan menghadiri Tourism Summit dari Swat Industrial Chamber of Commerce,” kata Jatmiko, Senin (23/9/2024), mengutip Antara.
Akan tetapi, meski semua diplomat selamat, seorang polisi tewas dan lima polisi cedera akibat serangan bom itu. Menurut Jatmiko, para diplomat saat itu dalam perjalanan menuju Swat usai menghadiri undangan kegiatan di kawasan Mal.
Di dalam rombongan yang dikawal kepolisian Pakistan itu, kata Jatmiko, juga terdapat diplomat dari Rusia, Bosnia-Herzegovina, Vietnam, Etiopia, Rwanda, Zimbabwe, Uzbekistan, Turkmenistan, Kazakhstan, dan Portugal. Kuasa Usaha Ad Interim Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Islamabad, Rahmat Hindiarta, menyatakan sudah tiba di Islamabad.
”Sudah kembali ke rumah di Islamabad,” ujar Rahmat. Malam Jabba adalah salah satu dari dua kawasan wisata salju di Pakistan. Kawasan wisata lain berada di Naltar, Provinsi Gilgit Baltistan. Menurut laporan media Pakistan, Dawn, Senin (23/9/2024), serangan bom itu terjadi di antara jalur yang menghubungkan Malam Jabba dan Swat.
Bom meledak pada Minggu (22/9/2024) siang dan merusak salah satu dari mobil pengawal rombongan diplomat. Para aparat kepolisian yang terkena serangan bom dilarikan ke rumah sakit. Salah satu korban yang bernama Burhan akhirnya tewas.
Kepala Kepolisian Swat Zahidullah Khan menyebut mobil yang ditumpangi Burhan dan lima orang lain berada di depan rombongan.
Mobil itu terkena ledakan bom rakitan. Badan mobil terlihat berlubang dan penyok sebagian di sisi kiri. Kaca jendela kiri juga pecah.
”Semua duta besar selamat dan telah dipindahkan ke tempat yang aman sebelum keberangkatan mereka ke Islamabad,” kata Wakil Inspektur Jenderal Polisi Mohammad Ali Gandapur.
Ia belum bisa memastikan, bagaimana cara bom itu meledak. Pakistan menilai serangan itu sebagai teror. Sementara Kementerian Luar Negeri Pakistan dalam pernyataan tertulis di situs resminya menyatakan, bom rakitan dalam insiden itu dinilai cukup canggih.
”Simpati kami sampaikan kepada keluarga polisi tersebut. Kami menghormati aparat penegak hukum kami yang tetap teguh dalam menghadapi teroris,” demikian bunyi pernyataan Kemenlu Pakistan.
Sampai saat ini belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan yang terjadi di wilayah yang merupakan basis Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP). Kelompok bersenjata ini terpisah dari Taliban Afghanistan walau berideologi mirip.
Sementara, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI, Roy Soemirat mengatakan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan Pemerintah Pakistan setelah rombongan diplomat RI terkena serangan diduga bom di Pakistan.
“Indonesia melalui KBRI Islamabad akan terus berkoordinasi dengan aparat Pemerintah Pakistan guna pastikan keamanan dan keselamatan seluruh WNI di Pakistan,” kata Roy, Senin (23/9/2024).
Editor: Gusti Rangga
Sumber: Antara























































