BATAM, RMNEWS.ID- Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa sebutan badai seperti Katrina, Sandy, atau Milton menyerupai nama manusia?
Penamaan badai yang merujuk kepada nama manusia itu bukannya tanpa alasan, melainkan terkait mitigasi bencana.
Dilansir dari laman Layanan Kelautan Nasional AS atau National Ocean Service (NOS), badai yang melanda banyak kawasan, terutama di AS, awalnya tidak memiliki nama.
Hingga awal 1950, badai tropis dan topan hanya dilacak berdasarkan tahun dan urutan peristiwanya.
Seiring berjalannya waktu, badai dinilai perlu memiliki nama yang pendek dan mudah diingat saat ditulis atau diucapkan.
Pertimbangannya, untuk mengurangi kebingungan publik ketika ada lebih dari satu badai yang terjadi dalam waktu yang nyaris bersamaan.
Tanpa nama yang ringkas dan mudah diingat, siaran publik untuk peringatan bencana alam ini juga rentan keliru.
Diberitakan History (23/5/2023), atas pertimbangan mitigasi bencana di atas, sejumlah ahli meteorologi Angkatan Udara dan Angkatan Laut AS selama Perang Dunia II mencari cara lebih baik untuk menandai badai.
Agar praktis, mereka lalu memberikan nama badai dengan nama panggilan istri, pacar, atau orang dekat.
Jauh sebelum masa tersebut, pakar meteor Australia, Clement Wragge sudah lebih dulu memberikan nama siklon tropis pada akhir abad ke-19. Dia memakai huruf alfabet Yunani dan karakter mitologi Yunani dan Romawi.
Memasuki abad ke-20, surat kabar dan prakiraan cuaca di AS merancang nama untuk badai yang merujuk pada periode waktu, lokasi geografis, atau intensitasnya. Pada 1945, Biro Cuaca Nasional AS dibentuk.
Biro itu memperkenalkan sistem alfabet fonetik militer untuk nama badai. Namun, pilihan alfabet itu cepat habis.
Akhirnya pada 1953, AS menerima ide prakirawan cuaca yang menggunakan nama perempuan sebagai nama badai. Praktik nomenklatur ini pun ditiru negara-negara lain.
Editor: Gusti Rangga
Sumber: Okezone























































