JAKARTA, RMNEWS.ID- Kabar duka menyelimuti dunia sepakbola Tanah Air.
Ronny Pasla, kiper legendaris Timnas Indonesia yang berjuluk Si Macan Tutul, dikabarkan meninggal dunia pada Senin (24/11/2025) dini hari WIB di Jakarta. Ia wafat pada usia 79 tahun.
Informasi kepergian Ronny disampaikan pihak keluarga melalui pesan yang beredar.
“Telah berpulang ke rumah Bapa di Surga Ronald Gustaf Pasla (Ronny Pasla) di Jakarta pada hari Senin 24 November 2025 pukul 01.26 WIB,” tulis keterangan tersebut, seperti dilansir Viva.
Ronny Pasla meninggalkan seorang istri dan enam anak. Hingga berita ini diterbitkan, pihak keluarga belum memberikan informasi lebih lanjut terkait waktu dan lokasi pemakaman.
Nama Ronny Pasla sangat populer di kalangan pecinta sepak bola Indonesia, terutama pada dekade 1960 hingga 1970-an. Ia dikenal sebagai salah satu kiper terbaik yang pernah dimiliki Indonesia.
Pada level klub, Ronny sempat memperkuat beberapa tim besar, termasuk PSMS Medan yang saat itu menjadi salah satu kekuatan sepakbola nasional.
Dijuluki Si Macan Tutul Berkat Ketangkasan di Bawah Mistar
Kemampuannya yang eksplosif, lincah, dan berani membuat Ronny mendapat julukan Si Macan Tutul. Julukan itu melekat kuat sebagai simbol ketangguhannya dalam menjaga gawang.
Salah satu momen paling ikonik dalam karier Ronny terjadi pada tahun 1972. Ketika itu, Santos FC yang diperkuat legenda dunia Pele datang ke Indonesia untuk melakukan tur.
Meski Timnas Indonesia kalah 2–3, Ronny berhasil menepis penalti Pele, pemain yang dua tahun sebelumnya mengantarkan Brasil menjuarai Piala Dunia 1970.
Aksi heroik tersebut membuat namanya melambung secara internasional.
Bukan hanya Pele yang dibuat frustrasi. Saat Manchester United bertandang ke Indonesia pada 1975, Ronny kembali tampil gemilang.
Berkat ketangkasannya, Timnas Indonesia mampu menahan imbang 0–0 tim elit asal Inggris tersebut.
Kepergian Ronny Pasla meninggalkan duka mendalam bagi dunia sepak bola Indonesia.
Sosoknya bukan hanya legenda, tetapi juga inspirasi bagi para penjaga gawang muda Tanah Air.
Meski telah berpulang, jasa dan ketangguhannya di bawah mistar gawang akan selalu dikenang oleh pecinta sepak bola Indonesia.**
Redaktur: Gusti Rangga
Sumber: Viva
























































