JAKARTA, RMNEWS.ID- Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa aksi unjuk rasa merupakan hak sah setiap warga negara.
Namun, ia mengingatkan masyarakat agar tidak terprovokasi oleh kelompok perusuh yang melakukan kekerasan dan perusakan, yang menurut pemerintah telah dilatih serta didukung pihak asing.
Dalam wawancara yang disiarkan televisi nasional, Pezeshkian menekankan bahwa pemerintahannya berkomitmen menangani persoalan ekonomi dan kesejahteraan rakyat yang menjadi latar belakang munculnya gelombang protes di berbagai daerah di Iran.
Ia menjelaskan bahwa negara berkewajiban memperlakukan seluruh warga secara adil, termasuk dalam distribusi subsidi dan bantuan sosial, tanpa membedakan latar belakang gender, etnis, maupun ras.
Menurutnya, kabinet telah mendengar langsung keluhan para pedagang dan pelaku usaha yang terdampak kondisi ekonomi.
“Kami membuka ruang dialog. Para demonstran diminta datang dan menyampaikan aspirasi mereka secara langsung. Pemerintah berupaya menyelesaikan persoalan ini dengan berbagai cara yang memungkinkan,” ujar Pezeshkian, dikutip dari Al Jazeera, Senin (12/1/2026).
Presiden juga menegaskan bahwa pemerintah tidak menutup mata terhadap kritik yang disampaikan secara damai.
Namun, ia membedakan antara protes yang sah dengan aksi anarkistis berupa pembakaran fasilitas umum, masjid, serta tindakan penodaan kitab suci Al-Quran.
Menurut Pezeshkian, aksi-aksi kekerasan tersebut merupakan bagian dari skenario pihak luar, yang ia sebut melibatkan Amerika Serikat dan rezim Israel, dengan tujuan memperkeruh situasi internal Iran melalui tekanan ekonomi dan sosial.
Ia juga mengajak serikat pekerja, pelaku industri, dan aktivis ekonomi untuk bersama-sama memberantas korupsi, yang dinilainya sebagai salah satu akar persoalan yang memperberat beban masyarakat.
Lebih lanjut, Pezeshkian menyerukan warga di setiap lingkungan untuk saling menjaga keamanan dan tidak memberi ruang bagi kelompok perusuh.
Ia mengajak masyarakat menghadiri aksi demonstrasi damai pro-pemerintah sebagai bentuk penolakan terhadap kekerasan dan upaya destabilisasi.
Presiden menegaskan aparat keamanan dan pertahanan negara akan bertindak tegas terhadap pelaku kerusuhan yang melakukan pembunuhan dan pembakaran.
Sementara itu, situasi keamanan kembali menjadi sorotan setelah tewasnya Farajollah Shooshtari, seorang aktivis sosial di Mashhad, yang disebut menjadi korban serangan kelompok bersenjata.
Farajollah merupakan putra mendiang Jenderal Nourali Shooshtari, tokoh senior Korps Garda Revolusi Islam yang gugur dalam serangan teroris pada 2009.
Pezeshkian menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa pemerintah optimistis Iran mampu melewati krisis ini dan memulihkan stabilitas nasional melalui persatuan, dialog, dan penegakan hukum yang tegas.**
Redaktur: Gusti Rangga
Sumber: Al Jazeera
























































